Bahan Diskusi untuk Halah Bilhalal di TRK Posko Depok

Karlina Supelli

Umat Muslim di seluruh dunia baru saja melewati sebuah bulan suci, Ramadhan. Sebuah bulan di mana umat Muslim diwajibkan menjalankan ibadah puasa dengan benak dan jiwa yang suci untuk sebuah tekad memerangi nafsu. Berbeda dengan ibadah lainnya, puasa adalah ibadah yang semata-mata ditujukan untuk Allah. Tidak seorangpun dapat mengetahui jika kita mengingkari sendiri puasa kita, karena dengan bebas kita dapat tetap mengaku sedang berpuasa. Puasa adalah kejujuran terhadap diri sendiri dan terhadap Allah Swt.

Betapa tidak mudah menahan nafsu jasmani, khususnya yang fa’ali (makan, minum, dan seksual); tidak jarang orang terjerembab ke dalam kenistaan justru karena tidak mampu menahan beban jasmaniahnya. Tidaklah mengherankan jika berpuasa sesungguhnya setara dengan jihad akbar. Jihad akbar, menurut Nabi Muhammad Saw. adalah perang terbesar menaklukkan nafsu. Perdamaiannya terjadi dalam diri manusia sendiri, yang disimbolkan dalam Idul Fitri. Sebuah hari kemenangan karena manusia kembali ke kesucian ibarat kanak-kanak yang pupus dosa-dosanya.

Maka, adalah sebuah ironi, ketika justru pada hari Kemenangan menaklukkan nafsu itu, terjadi pengobaran kemurkaan seperti yang terjadi di Ambon pada Idul Fitri tahun 1999 lalu; yang bukan hanya tidak usai pada hari Raya yang sama tahun 2000 ini, tetapi terus melebar dan mendalam. Peristiwa itu terjadi juga tidak lama setelah umat Kristiani merayakan hari Natal. Sebuah hari peringatan untuk cinta kasih dan damai di Bumi.

Hanya kaum korban yang memahami betapa pedih dan menyengsarakan amarah dendam yang ibarat lingkaran tak putus itu. Umat Muslim sejati, yang paham makna puasa dan Idul Fitri, justru tidak akan membiarkan pembunuhan dan penghancuran seperti. Begitu pula umat Kristiani yang paham makna cinta kasih dan damai yang dibawa oleh Isa putera Maryam–seorang perempuan suci yang begitu dihormati di dalam Islam–tidak akan jatuh ke dalam dendam tak berkesudahan itu.

Ironinya, penghancuran tatanan masyarakat dan budaya kehidupan antar agama yang bertahan selama ratusan tahun di tanah Maluku, justru hancur atas nama perbedaan agama.

Kita berada dalam situasi negara di mana kesulitan ekonomi tidak juga reda dalam dua tahun terakhir ini. Kita berada dalam kondisi di mana umat beragama menghadapi tantangan yang amat besar untuk dapat tetap hidup berdamai dengan sesama manusia yang berbeda keyakinan atau asal usulnya. Kita berada dalam negara di mana pembunuhan, perusakan, penganiayaan baik antar sesama warga masyarakat maupun antara aparat negara dan rakyat, berlangsung hampir tiada henti sepanjang dua tahun terakhir ini.

Di mana-mana orang bertanya, apakah yang harus dilakukan? Harus mulai dari mana? Dan kita seperti menemui jalan buntu karena kekerasan yang memakan korban terus berlangsung.

Amatlah sangat memprihatinkan, bagaimana agama telah dipergunakan untuk menciptakan sebuah hubungan palsu antara mereka yang diperangi dan yang memerangi. Bukannya masyarakat diajak membongkar musuh bersama yaitu akar-akar ketidakadilan, kemiskinan, kejahatan terhadap kemanusiaan yang sudah selama tiga dekade merembet ke kehidupan bersama. Malahan, rakyat diajak saling memusuhi satu dengan yang lainnya dengan memakai tesis agama, nasionalisme, martabat bangsa, dan slogan lainnya.

Tidak berarti bahwa tesis itu tidak benar, hanya saja konsep-konsepnya dimainkan untuk justru menciptakan rasa bersama yang salah sehingga menciptakan kesatuan yang semu.

Upacara agama dan dogma yang dengan sengaja dikelirukan, dengan mudah dipakai untuk tujuan ini. Adalah memprihatinkan, bahwa orang atau kelompok yang sesungguhnya merupakan musuh sejati umat manusia–karena membela dan mempertahankan kedurjanaan demi kepentingan politik atau kekuasaan–dipersatukan dengan umat sesungguhnya dalam andaian palsu bernama “persaudaraan sejati seagama”, atau “nasionalisme.”

Agama menjadi senjata yang efektif untuk mengalihkan perasaan dan perhatian rakyat dari permasalahan sesungguhnya yang sedang dihadapi bersama. Daripada menghadapi bersama persoalan ketidakadilan yang mengakar di kebijakan politik para pejabat masa lampau namun yang belum terselesaikan, daripada membantu membongkar dan menyelesaikan pelanggaran hak asasi manusia berat yang terjadi di banyak tempat di Indonesia, daripada menggalang energi bersama melawan sisa-sisa kejahatan ekonomi dan politik, rakyat dialihkan perhatiannya ke persoalan kebencian antar agama yang saling menghancurkan.

Bukannya memberikan sumbangan terhadap wawasan kebangsaan yang mampu menerima keragaman masyarakat, yang mampu membawa transformasi ke wawasan kebangsaan yang inklusif, banyak tokoh agama justru terbawa hanyut ke dalam gagasan semakin eksklusif yang menyebabkan bibit pertikaian semakin menyebar subur.

Demi memulihkan atau menjaga sisa-sisa harta dan kekuasaan masa lampau, dicarilah sebuah landasan yang mampu memobilisasi kekuatan rakyat. Ini ditemukan dalam ideologi mesianisme yang bersumber dari agama, dan ideologi asal usul yang bersumber di tradisi etnik atau suku. Muncullah identitas baru yang dapat mempersatukan rakyat untuk melawan penyebab kehancuran tatanan lama yang ada.

Mengapa rakyat di beberapa wilayah konflik begitu mudah digerakkan dan diajak masuk ke dalam identitas semu ini?

Untuk waktu yang lama sepanjang masa Orde Baru kita hidup di dalam realitas permukaan tempat nilai-nilai kebersamaan, kesatuan dalam kebinekaan, kerakyatan, musyawarah, gotong royong, kemanusiaan, keberadaban, dan begitu banyak nilai-nilai agung lainnya menjadi slogan yang menutupi ketidakadilan yang terjadi di dalam realitas kongkret kehidupan sehari-hari.

Ketidakadilan yang dialami oleh hampir seluruh masyarakat kita, bukan hanya menyebabkan luruhnya rasa ikut menjadi bagian dari Indonesia yang utuh tetapi membelahnya menjadi mereka yang dinilai lebih beruntung dan yang lebih tidak beruntung, mereka yang menikmati Indonesia, dan mereka yang tidak menikmati Indonesia.

Ketidakadilan menyeluruh menyebabkan masyarakat terbagi atas kelompok-kelompok yang selalu merasa didiskriminasikan sekalipun bentuknya berbeda-beda. Ketidakberdayaan melawan ketidakadilan struktural sebagai musuh masyarakat yang sesungguhnya, akan memunculkan upaya pencarian ‘musuh’ yang lebih mungkin dilawan, musuh yang lebih tidak memiliki kekuasaan. Selanjutnya, ketika negara bukan lagi tempat warga dapat berlindung, ketika ideal-ideal agung hanya tinggal dengungan, orang dengan mudah kembali berlindung ke ideologi primordial berasalkan asal-usul atau kesamaan tersebut.

Apakah keadilan itu?

Keadilan secara sederhana adalah keadaan di mana hak semua pihak terjamin. Semua berada di tempat yang tepat, dan terdapat keselarasan yang nyata. Adil adalah sifat yang amat penting untuk seorang Muslim. Adil adalah sifat yang dekat kepada taqwa, karena di dalam taqwa terkandung pengertian memilih antara yang baik dan buruk dengan pertimbangan yang adil.

Di dalam masyarakat, keadilan yang menjadi prinsip adalah keadilan sosial, yang dapat diukur dari perhatian anggota kepada yang paling lemah, yang paling miskin, dan yang paling menderita. Selama masih ada kelompok yang menderita, yang miskin, yang tidak mempunyai akses ke pelayanan sosial paling dasar, selama itu kelompok yang lain tidak boleh diam saja. Pentinglah memahami bahwa kemiskinan bukan sesuatu yang alamiah. Kemiskinan didasarkan atas sstruktur-struktur yang menciptakan ketergantungan. Adanya golongan miskin bukan karena masyarakat tidak mempunyai cukup untuk semua, tetapi karena ada ketergantungan kepada kekuasaan golongan lain.

Tidak cukuplah hanya mengatakan bahwa kaum miskin harus ditolong dan dibebaskan. Golongan miskin dan papa, rakyat kebanyakan hanya akan efektif dalam membebaskan diri kalau mereka sendiri ikut berpartisipasi dalam pengambilan keputusan mengenai hal-hal menyangkut hidup mereka sendiri.

Ada sebuah kisah menarik.

Al-Makmun, khalifah Abbasiyah (abad ke-9), merupakan salah seorang raja yang paling berkuasa pada masanya. Kemegahan kekuasaannya mengilhami banyak sekali cerita. Namun, ada seorang pemikir pemberani, seorang sufi, yang melihat bahwa di antara tentara menggetarkan banyak lawan yang dimiliki Al-Makmun, ia hanyalah seorang laki-laki biasa yang diberi kekuasaan oleh masyarakat untuk memimpin. Sang sufi ini ingin mengetahui apa yang dipikirkan khalifah tentang tahtanya itu. Maka munculah kisah yang diceritakan oleh seorang saksi untuk kejadian berikut ini:

Suatu hari, ketika khalifah sedang mengadakan pertemuan dengan pengurus rumah tangga istana, Alli bin Saleh muncul dan berkata: “Amirul Mukminin, seorang lelaki berpakaian putih dari bahan yang kasar berdiri di muka pintu gerbang. Dia meminta izin untuk ikut dalam diskusi ini.” (Saya paham, kata Yahya sang saksi yang berkisah ini, bahwa laki-laki itu adalah seorang sufi. Saya ingin memberi isyarat kepada khalifah agar tidak mengizinkan sufi itu masuk. Namun khalifah memerintahkan agar sufi itu boleh masuk) Lalu masuklah seorang lelaki sambil menyingsingkan lengan jubahnya dan menenteng sandal. Di ujung karpet ia berhenti dan berkata, “Assalamualaikum wr.wb.” Al-Makmun membalas salam itu. Orang asing ini minta izin mendekat dan khalifah menyilahkan duduk. Setelah duduk, lelaki orang asing ini bertanya,

“Apakah engkau mengizinkan aku menegurmu?”

“Berbicaralah tentang apa yang engkau ketahui. Untuk itu Allah akan bergembira,” Al Makmun mempersilahkan lelaki ini berbicara.

Laki-laki itu bertanya,”Apakah engkau lebih berhutang kepada umat Islam yang telah mengizinkan engkau menduduki tahta ini, atau lebih berhutang kepada kekerasan yang telah engkau pergunakan terhadap lawanmu melalui kekuatan dan kekuasaanmu?”

Al-Makmun dengan cerdas menangkap pertanyaan ini. Ia menunjukkan hormatnya kepada lelaki yang mempunyai keberanian tulus terhadap khalifah yang memegang kekuasaan demikian tinggi; ia menjawab, bahwa ia tidak berhutang kepada umat Islam ataupu kekerasan. Ia berhutang kepada kenyataan bahwa ia menerima tahta dari Sultan yang memerintah sebelumnya dengan persetujuan.

Persoalan dengan jawaban Al Makmun adalah, dalam Al Quran tidak ada keterangan mengenai keabsahan kekuasaan turun temurun. Kisah pertemuan khalifah dan sufi ini mengharukan karena membuka keindahan Islam sekaligus kelemahan sistem politik. Keindahan itu adalah bahwa siapapun yang lebih rendah bisa meminta pertanggujawaban orang yang paling berkuasa di wilayahnya.

Agama adalah sumber terbesar untuk energi dan aspirasi. Namun dalam situasi keadilan sosial yang remuk redam, agama yang seharusnya merupakan pemandu menuju kehidupan yang bermakna di atas muka Bumi, menjadi begitu berubah dan mudah sekali dijadikan pembangkit semangat primordial. Mata, telinga, dan hati hanya tertuju kepada kecurigaan mengenai apa kiranya yang dilakukan orang-orang umat agama lain terhadap umat agama kita. Atau kepada kecurigaan, “kelebihan apa yang kelompok lain peroleh dibandingkan kelompom saya.”

Padahal, seorang yang tercerahkan, apakah ia seorang Muslim, seorang Kristiani, seorang Buddhis, Seorang Hinduis, atau penganut keyakinan dan agama apapun, tahu bahwa ia harus menghindari pemahaman yang dangkal akan masalah-masalah yang ada di sekitarnya. Ia mengerti akan kenyataan bahwa peranan merusak yang sedang dimainkan atas nama agama, sesungguhnya tidak ada hubungannya dengan agama dan kebudayaan sejati agama tersebut.

Semangat dominan kebudayaan Islam adalah keadilan dan kepemimpinan. Ini berarti setiap dari kita yang Muslim mampu menciptakan keyakinan baru, dan memimpin sebuah kesadaran baru akan bahaya yang muncul dari ketidaktahuan, dari kebodohan, akibat ketidakadilan yang menyebar luas di struktur-struktur kekuasaan politik dan ekonomi selama ini.

Itulah sebabnya kita harus mampu menyaring setiap sumber daya yang ada di masyarakat dan mengubah penyebab kebodohan menjadi sebuah kekuatan gerakan pengetahuan akan sumber-sumber ketidakadilan yang sesungguhnya telah mengendap begitu lama. Ketidakadilan telah menyebabkan masyarakat begitu mudah dipilah dan digolongkan sesuai kepentingan pembentuk ketidakadilan itu sendiri.

Kita harus mampu mengubah konflik antar kelas, antar agama, antar suku, menjadi suatu kesadaran akan tanggung jawab sosial. Bagaimanakah caranya? Yaitu dengan memanfaatkan kekuatan berbicara dan menulis yang benar dan melampaui kepentingan salah satu golongan; memanfaatkan kesenian rakyat untuk menjembatani perbedaan bukan dengan maksud menyamakan tetapi untuk saling berbagi kisah penderitaan, kebahagiaan, kesengsaraan, sehingga kisahmu adalah kisahku dan kisahku adalah kisahmu.

Kita pun paham bahwa perjuangan untuk membela hak-hak asasi manusia adalah salah satu perjuangan menegakkan keadilan, karena segala tindakan yang merugikan manusia, yang merampas hak manusia adalah lawan dari keadilan. Perjuangan mencegah kerusakan lingkungan hidup adalah perjuangan menegakkan keadilan. Semua kegiatan yang berusaha meniadakan kerugian masyarakat dan mengembalikan hak-hak rakyat adalah perjuangan menegakkan keadilan. Berbuat adil harus menjadi standar minimal perbuatan setiap umat yang beriman.

Dengan rasa keadilan itulah kita menjaga agar senjata agama tidak jatuh ke tangan mereka yang tidak patut memilikinya dan yang tujuannya adalah memanfaatkan agama untuk tujuan-tujuan pribadi dan golongan, yang dengan itu justru memperoleh energi menghancurkan dengan cara menggerakkan rakyat.

Jika kita berbicara tentang kebangkitan agama-agama, maka itu adalah kembali ke agama yang dinamis, yang hidup, kuat, adil, dan memimpin. Agama yang mampu melumpuhkan agen perusak dan yang mampu menyelamatkan rakyat dari doktrin yang dipergunakan dengan sengaja untuk membius. Di sinilah kita bersama harus memupuskan semangat meniru yang seragam dan semangat kepatuhan yang penuh ketakutan yang ditekankan kepada kita selama pemerintahan yang otoriter selama lebih dari 30 tahun berkuasa.

Kita harus menggantikannya dengan semangat ijtihad (pemikiran bebas) yang kritis dan penuh pembaharuan dan perubahan. Kita menggali, menyuling, menyaring, semua cadangan energi yang ada di dalam masyarakat, untuk sebuah perdamaian sejati dan membentuk umat manusia yang tercerahkan.

Peran dan tanggung jawab orang yang tercerahkan–meminjam gagasan pemikir Ali Shariati–adalah mengubah konflik-konflik sosial yang ada, dari konteks masyarakat menjadi konteks individu yang menghunjam ke dalam perasaan dan kesadaran-diri para anggotanya. Setiap individu menyadari bahwa ia bertanggung jawab secara pribadi atas kemajuan kaumnya.

Izinkanlah saya menutup pembicaraan malam ini dengan sebuah tafsir atas kalam Ilahi:

Katakanlah: “Hai para Ahli Kitab, marilah kita membentuk suatu kesepakatan yang tidak ada perselisihan antara kami dan kamu, bahwa kita tidak akan mengabdikan diri kecuali kepada Tuhan yang maha Esa dan kita tidak mempersekutukan-Nya dengan sesuatu apapun dan tidak pula sebagian kita menjadikan sebagian yang lain sebagai Tuhan, selain Tuhan Yang maha Esa. Jika mereka berpaling maka katakanlah kepada mereka: Saksikanlah, bahwa kami adalah orang-orang yang menyerahkan diri kepada Allah. (Al Imran ayat 64).

Ayat ini turun ketika Rasulullah Muhammad Saw menghadapi situasi awal pembentukan masyarakat baru setelah Hijrah ke Madinah. Nabi harus menyampaikan ayat tersebut kepada masyarakat yang memeluk agama-agama besar pada waktu itu.

Ingin pula saya mengutipkan kalam Ilahi berikutnya:

Manusia itu adalah umat yang satu; maka Allah mengutus para Nabi, sebagai pemberi kabar gembira dan memberi peringatan, dan Allah menurunkan bersama mereka kitab-kitab dengan benar, untuk memberi keputusan di antara manusia tentang perkara yang mereka perselisihkan. Tidaklah berselisih tentang Kitab itu meliankan orang yang telah didatangkan kepada mereka Kitab, yaitu setelah datang kepada mereka keterangan-keterangan yang nyata, karena dengki antara mereka sendiri. Maka Allah memimpin orang-orang yang beriman kepada kebenaran yang mereka perselisihkan itu dengan kehendakNya (Al Baqarah 213).

Jakarta, 5 Februari 2000

Halal Bihalal di Depok

T im Relawan untuk Kemanusiaan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s