Awal Sebuah Pemahaman

AWAL SEBUAH PEMAHAMAN

Karlina Supelli

Rasa-rasanya, setiap orang pernah mempertanyakan keberadaaan dirinya di dalam alam. Mengapa aku di sini? Bagaimana asal mulaku ada di sini? Mengapa ada segala sesuatu di sekitarku? Dari mana asal semua ini? Mengapa semua terlihat begitu teratur? Mengapa alam begitu teratur? Pertanyaan-pertanyaan ini, betapa pun disampaikan dengan cara yang sederhana, mengandung nilai kosmologis yang amat tinggi, karena pertanyaan-pertanyaan seperti itu dapat membawa kita pada telaah terperinci mengenai alam semesta.

Apakah kosmologi? Kosmologi sekarang ini dikenal sebagai bagian dari ilmu pengetahuan alam, namun kosmologi dalam pengertian yang seluas-luasnya sudah muncul lama sebelum ilmu pengetahuan ada. Kosmologi dalam pengertian itu adalah setiap upaya manusia untuk memahami alam semesta yang kita huni.

Kata kosmologi berasal dari kata Yunani kosmos yang dipakai oleh Pythagoras (580-500 SM) untuk menggambarkan keteraturan dan keselarasan pergerakan benda-benda langit. Istilah ini dipakai lagi oleh Christian Wolff (1679-1754) ketika membagi-bagi wilayah pengkajian filsafat. Dalam pengertian Wolff kosmologi adalah telaah tentang sistem kosmik; dalam kosmologi ini alam semesta diselidiki menurut inti dan hakikatnya yang mutlak, menurut segi material maupun menurut segi maknanya. Ini berarti obyek-obyek yang dipelajari tidak secara a priori dibatasi pada benda-benda fisika-kimia ataupun biotik, tetapi juga manusia dan alam semesta sejauh dialami manusia. Istilah dunia sebetulnya lebih tepat daripada alam semesta untuk pengertian kosmologi ini, mengingat ungkapan alam semesta lebih menunjuk pada obyek material. Titik tolak kosmologi secara umum adalah kesatuan manusia dan alam semesta serta dunia yang dialami manusia.

Kemajuan ilmu pengetahuan alam dengan metode eksperimentalnya yang khas menyebabkan kosmologi mulai memanfaatkan pendekatan ilmu-ilmu empiris. Gejala ini kian melekat pada akhir abad ke-19, sehingga kosmologi yang berkembang selanjutnya lebih dilihat dan diterima sebagai sintesis besar berbagai cabang ilmu pengetahuan alam, daripada sebagai spekulasi filosofis mengenai alam semesta.

Dalam penggunaan modern oleh para ilmuwan, kosmologi adalah cabang ilmu pengetahuan yang berupaya memahami struktur spasial, temporal, dan komposisional alam semesta skala besar. Metode yang digunakan adalah metode ilmu pengetahuan alam. Kosmolog menelaah ruang-waktu, menyelidiki asal usul materi di dalam alam semesta, termasuk asal usul kosmos itu sendiri. Kosmologi mempelajari peristiwa-peristiwa penting kosmis termasuk asal mula kehidupan dan kesadaran di planet Bumi. Kehidupan berkesadaran menjadi bagian penting dalam kosmologi karena merepresentasikan Kosmos yang berpikir dan menyadari dirinya sendiri.

Kosmologi kontemporer berkembang dengan amat pesat, namun manakala temuan-temuan baru dilontarkan, selalu saja para kosmolog harus merenungkan kembali gagasan-gagasannya. Terlalu banyak kenyataan penting di dalam alam semesta yang memang belum diketahui, termasuk mengapa ia dengan daya pikirnya mampu membangun kosmologi. Ia belum juga paham dengan terperinci bagaimana pikirannya mampu mengumpulkan sobekan-sobekan fakta yang tersebar demikian acak di sekelilingnya, lalu secara cerdik memadukannya dengan bayang-bayang imajinasi yang lahir dari permenungan panjang, hingga akhirnya membentuk sebuah bangunan dahsyat: alam semesta terpahami. Ia belum juga menjawab, mengapa dari benaknya lahir matematika, salah satu sarana ampuh untuk membaca sandi-sandi yang tercetak di dalam kosmos? Yang pasti, segala sesuatu yang mempengaruhi cara berpikir manusia akan mempengaruhi cara ia merancang kosmologi. Maka kosmologi tidak pernah dapat diceraikan dari filsafat, agama, seni, dan ilmu pengetahuan. Paduan kesemuanya itulah yang akan membuahkan pemahaman yang mendasar mengenai alam semesta. Itulah pula sebabnya, di dalam benak setiap orang sebenarnya sudah tersimpan pengertian tentang kosmologi.

Itu pula alasan mengapa kosmologi modern yang begitu membawa semangat empiris ilmu-ilmu alam, tidak pernah melepaskan diri dari warisan nafas kosmologi tradisional, yaitu menjawab pertanyaan, darimana alam semesta ini berasal, ke mana menuju, dan mengapa demikian? Tradisi itu tetap bertahan, sebagian karena kosmologi memang terancang dan terlahir demikian, namun lebih penting lagi karena, seperti disampaikan oleh seorang kosmolog kenamaan, Peebles, dalam bukunya Principles of Physical Cosmology (1992), ke arah inilah astronomi dan fisika menggiring kosmologi.

Oleh alasan itu pula kosmologi menjadi salah satu cabang ilmu pengetahuan yang tidak pernah berhenti membangkitkan pertanyaan filosofis yang menarik perhatian banyak orang. Filsuf Karl R. Popper dalam pengantar untuk edisi Inggris bukunya, The Logic of Scientific Discovery (1992), bahkan menyatakan keyakinannya bahwa ada satu persoalan filosofis yang sedikitnya diminati oleh semua orang yang berpikir. Persoalan itu adalah persoalan kosmologi, yaitu persoalan memahami dunia–termasuk diri kita sendiri dan pengetahuan-pengetahuan kita sebagai bagian dari dunia.

Apakah kosmologi? Kosmologi adalah telaah mengenai alam semesta. Jika ilmu pengetahuan yang ada sekarang ini memilah, membagi, membelah-belah, bahkan mencacah-cacah alam semesta hingga ke bagian-bagiannya yang paling kecil, sehingga setiap cabang ilmu dapat menguasai sepotong kecil wilayah alam semesta dengan amat terperinci dan mendalam, maka kosmologi justru menjadi cabang ilmu pengetahuan yang menggabungkan potongan-potongan semesta untuk mendapatkan sebuah gambar dunia.

Pada kosmologi-lah spesialisasi menjadi agak sukar diwujudkan. Para kosmolog adalah para ahli ilmu pengetahuan namun mereka tidak seperti kebanyakan para ahli ilmu pengetahuan itu. Kosmolog selalu mengambil sudut pandang yang lebih lebar. Kosmolog adalah mereka yang memandang sehamparan permadani berlukisan dari kejauhan sehingga memperoleh keseluruhan pola tanpa terganggu oleh rinciannya.

Siapakah para kosmolog itu? Kosmolog profesional yang menenggelamkan seluruh diri dan hidupnya dalam matematika, fisika, astronomi dan menyusun telaah mengenai alam semesta skala besar, memang tidak terlalu banyak jumlahnya. Apalagi di Indonesia. Namun kelihatannya kita juga tidak perlu cemas benar, karena seperti disampaikan Edward Harrison dalam Cosmology (1981), banyak orang sebetulnya kadang-kadang juga menjadi kosmolog. Cukuplah ia berdiri sedikit menjauh dari bidang kajian mereka yang sangat spesifik, baik itu ilmu pengetahuan alam maupun humaniora, lalu merefleksikan segala sesuatu secara umum dan menyeluruh, dan mencoba melihat hutan yang demikian luas, bukan cuma pohon demi pohonnya, melihat seluruh lukisan, bukan cuma rincian gambarnya, melihat seluruh permadani, bukan cuma benang-benang tenunnya; itulah saat seseorang menjadi kosmolog.

Menuju Keteraturan

Kosmologi merupakan bagian tertua dari pengetahuan manusia sekalipun kapan persisnya kosmologi dimulai, pastilah sudah tenggelam dalam genangan waktu. Namun sejak awal manusia sudah didorong oleh semangat untuk mengetahui tempatnya di dalam alam semesta, mengetahui daya-daya yang menguasainya, sekaligus juga daya-daya yang masih dapat ia kuasai.

Kalau kita menelusuri sejarah pemikiran manusia melalui lukisan-lukisan gua misalnya, maka sejak puluhan bahkan ratusan ribu tahun lalu sudah kelihatan bahwa manusia terpukau oleh dunia yang dilihatnya sebagai tempat bekerja daya-daya alam yang serba rahasia dan di luar jangkauan kekuasaannya. Dalam getar ketakutan atau buaian rasa takjub, manusia mencoba mengenali daya-daya itu. Ia bahkan menghadirkannya dalam tari-tarian atau dalam patung-patung, lalu mencoba melawan melalui perbuatan magis.

Namun ketika ternyata perbuatan-perbuatan itu tidak juga membawa kekuatan untuk mengatasi kekuasaan ajaib yang mengkungkungnya, manusia beralih ke keyakinan bahwa dalam alam memang ada ruh-ruh halus yang berperilaku dan bertindak dengan emosi seperti manusia, namun jauh lebih berkuasa. Kekuatan ruh halus itu lalu merembes ke dalam pohon, gunung, air, angin, petir, serta seluruh alam, dan di kala riang menjelma menjadi daya-daya yang membawa anugerah untuk manusia, namun di kala murka membawa bencana.

Segala sesuatu senantiasa didalangi oleh daya-daya ini. Alam semesta menjadi antropomorfik, yaitu menjadi tempat manusia memindahkan imajinasi tentang dirinya ke daya-daya gaib pengatur alam. Alam semesta ini adalah alam semesta dalam dongeng anak-anak yang kerap kali mendirikan bulu roma.

Alam semesta ini berakhir mungkin sekitar sepuluh ribu tahun yang lalu ketika manusia mulai membangun kota-kota tertua di Bumi dan menyingsingkan fajar pertama sejarah. Ruh-ruh yang semula bergentayangan kini menetap dalam tubuh para dewa dan dewi penguasa dan pengatur alam. Asal usul segala kejadian mulai dijelaskan secara runtun melalui mitos. Mitos boleh disebut sebagai upaya pertama manusia untuk menjelaskan secara sistematis gejala-gejala yang ada dalam alam; para kosmolog seringkali menyebut mitologi sebagai kosmologi pra-ilmu.

Mengapa terjadi peralihan dari alam semesta magis ke alam semesta mitos? Dalam bukunya The Golden Bouh: A Study in Magic and Religion (1922) yang juga dikutip oleh Harrison (1981), antropolog James Frazer menyatakan dugaannya bahwa pertumbuhan pengetahuan di kalangan manusia primitif menyebabkan mereka menyadari dengan jernih kemahaluasan alam dan ketakberartian manusia yang kecil di dalamnya. Pengenalan terhadap ketakberdayaan ini memperkuat keyakinan akan adanya kekuatan dahsyat supernatural yang telah mampu mengontrol mesin raksasa alam. Maka sekalipun tidak memberi informasi mengenai daya-daya alam, mitos, seperti dikatakan van Peursen dalam Strategi Kebudayaan (1988) menyadarkan manusia akan adanya kekuatan-kekuatan ajaib. Mitos membantu manusia untuk menghayati daya-daya itu sebagai daya yang mempengaruhi dan menguasai seluruh alam termasuk kehidupan manusia. Mitos menjadi perantara antara manusia dan daya-daya alam; lewat mitos manusia seakan-akan mendapat jaminan bahwa hari ini akan berlalu seperti sudah dikisahkan dalam mitos. Lewat mitos manusia juga memperoleh keterangan-keterangan tentang dunia yang dihuninya.

Mitos tentang asal-usul dunia disebut kosmogoni. “Pada mulanya, ketika Langit di atas dan Bumi di bawah belum bernama, terdapatlah Apsu–pusaran mata air amat dalam tak berdasar–si permulaan, dan Tiamat–tenaga buta maha dahsyat,” demikian tertulis dalam mitos tertua yang ditemukan di Mesopotamia. Pertautan keduanya melahirkan dinasti dewa dan dewi yang kelak membuat kisah-kisah menarik yang terdapat dalam mitologi bangsa kuno.

Di India, mitos membawa kita kepada dewa dan dewi Hindu. Di Rig Veda misalnya dituliskan, “siapakah dapat mengetahui dan menyatakan kapan muncul penciptaan ini? Dia, asal pertama ciptaan ini, yang matanya di langit tertinggi mengatur dunia ini, apakah ia membentuk ini semua atau ia tidak membentuk ini semua, hanya ia yang mengetahui, atau barangkali ia tidak mengetahuinya.” Namun kemudian, dalam Manu, kitab hukum Hindu, disebutkan bahwa segala sesuatu mulanya dalam kegelapan, tanpa bentuk, melampaui nalar dan pemahaman, sepertinya sepenuhnya tertidur. Lalu Tuhan yang mengada-sendiri mengejawantah, membuat segala sesuatu terpahami dengan dayanya, menyingkap alam semesta ke dalam unsur-unsurnya, dan memecahkan bayang-bayang kegelapan.

Namun bangsa India kuno juga mempunyai gagasan yang menarik lainnya tentang jagat raya ini. Bangsa yang sudah memulai kebudayaannya sedikitnya sejak 3000 tahun SM di lembah sungai Indus di Mohenjo-Daro atau di Harappa ini, percaya bahwa Bumi yang datar bersangga di atas punggung beberapa ekor gajah raksasa; gajah-gajah itu berdiri di atas punggung seekor kura-kura maha besar. Langit tidak lain adalah seekor ular kobra raksasa yang badannya melingkari Bumi; pada malam hari sisik-sisik ular itu mengkilat berkilauan sebagai bintang-bintang. Gagasan ini menunjukkan kepercayaan pada dunia atas tempat bersemayam para dewa, dunia bumi tempat hidup manusia, dan dunia bawah tempat tinggal ruh jahat. Ular menjadi lambang kekuatan mencipta, sedangkan kura-kura adalah lambang keabadian.

Bangsa Cina yang terkenal praktis dan sudah mengenal kalender sedikitnya pada abad ke-14 SM, membangun Langit yang mirip suatu birokrasi yang tertata dengan baik tempat para dewa mendaftar, melapor, dan mengatur langkah manusia di Bumi. Maka pentinglah juga untuk manusia membuat catatan mengenai kegiatan para dewa dan dewi itu. Tidak mengherankan jika astronom Shih Shen sudah berhasil menyusun katalog bintang–sangat boleh jadi merupakan katalog tertua–yang terdiri dari 800 entri pada tahun 350 SM; atau mencatat dengan cermat kedatangan komet dan batu meteorit yang jatuh sejak tahun 700 SM.

Dalam Kitab Konfusian disebutkan adanya lima unsur dasar alam yaitu eter, api, udara, air dan bumi, yang masing-masing mempunyai derajat kehalusan dan masing-masing mempunyai keselarasannya sendiri. Bangsa Cina memperkenalkan pula konsep maskulin Yang yang berkualitas cahaya, panas, dan kering seperti dilambangkan oleh Matahari, dan konsep femini Yin yang membawa kualitas bayang-bayang, sejuk, dan lembab seperti Bulan. Belitan kedua gaya ini membangkitkan keteraturan, rasa, dan segala sesuatu yang ada.

Mitos-mitos yang paling terkenal dan menyebar paling luas ke seluruh dunia adalah yang berasal dari bangsa Yunani. Mereka memperkenalkan empat bentuk asal yang menurunkan semua dewa dan dewi mereka yang hidup dalam kisah-kisah menakjubkan dan memenuhi ribuan halaman buku. Ke-4 bentuk itu adalah Chaos–penguasa ngarai dalam tak berdasar, Gaea si Bumi, Tartarus dari dunia bawah, dan Eros, gairah cinta.

Bangsa Yunani membangun mitos dengan menggunakan rasi bintang; mereka lalu membuat prakiraan gerak planet, meramal komet, gerhana Bulan dan gerhana Matahari. Mereka memanfaatkan susunan langit untuk menentukan kejadian-kejadian di Bumi. Di tangan bangsa Yunani, astrologi yang berasal dari Babilonia (sekarang Irak) menjadi sangat populer dan berpengaruh kuat. Tidak sedikit orang yang sampai hari ini masih menggantungkan nasibnya pada astrologi. Astrologi menjadi kepercayaan kuno yang paling panjang umur.

Betapapun alam semesta mitologis dikuasai oleh para dewa dan dewi, sebetulnya alam semesta mitologis adalah alam semesta yang mengabdi dan berpusat di manusia. Betapapun dahsyatnya kekuatan para dewa dan dewi, mereka semua bertugas melindungi dan melayani manusia. Alam semesta ini sangat antroposentris; alam semesta dibangun di sekitar manusia dan di sekita seluruh kegiatannya yang mengambil tempat di pusat alam semesta.

Kepercayaan Kuno yang Panjang Umur

Astrologi lahir sekitar 2.000 tahun SM di lembah Mesopotamia, di antara sungai Eufrat dan Tigris. Di bawah naungan malam yang begitu gelap sebelum ada lampu-lampu kota, bisa dibayangkan bagaimana langit yang menjadi gemerlapan oleh taburan beribu-ribu bintang sangat inspiratif untuk para pendeta Babilonia. Untuk mereka, memandang dan mengamati langit ibarat ibadah pemujaan, baik terhadap keindahan maupun terhadap kebijaksanaan atau kedurjanaan yang mungkin tersembunyi di balik keindahan itu. Setiap gerak di langit adalah pesan dari penguasa kosmis yang harus diterjemahkan. Maka mereka pun berusaha mengenali tiap-tiap perubahan yang muncul di langit dan mencatat dengan cermat. Catatan paling akurat pertama yang terekam adalah mengenai terbit dan tenggelamnya Venus.

Pada awalnya bisa jadi ada suatu kebetulan, namun para pendeta dan masyarakat menjadi amat percaya bahwa langit dapat dipelajari untuk meramalkan peruntungan manusia. Bukankah gerakan planet-planet, Matahari, dan Bulan yang begitu teratur, atau bisa juga kedatangan komet yang tiba-tiba, sebetulnya membawa pesan tentang apa yang akan menimpa raja dan negara mereka? Langit adalah pesan. Siapa lagi yang bisa dengan begitu menawan melukiskan pesan itu di langit yang demikian tinggi tak terjangkau selain para penguasa kosmos yang tentu saja dengan mudah juga akan menguasai Bumi?

Kesan pertama yang tak dapat dibantah ketika kita melihat langit malam yang jernih di sebuah lapangan terbuka atau di tepi pantai adalah lengkungan raksasa setengah bola yang mulai di kaki langit. Kita yang menapak di Bumi merupakan pusat bola itu. Bangsa-bangsa kuno sudah menyimpulkan bahwa bola langit itu haruslah demikian besarnya, karena jika tidak, tentu bintang-bintang akan terlihat berbeda dari satu tempat ke tempat lain. Kenyataannya, bintang-bintang kelihatan membentuk pola serupa dari banyak tempat berbeda di Bumi.

Pengamatan terhadap langit malam selama beberapa jam saja sudah cukup untuk memperlihatkan bahwa seluruh bola langit seakan-akan bergerak perlahan-lahan ke barat. Gerak ini sebetulnya disebabkan oleh perputaran Bumi pada sumbunya, atau rotasi. Namun bangsa kuno yang belum mengetahui hal ini, menduga bahwa langit itulah yang berputar di sekitar sumbu raksasa tak kelihatan yang menembus Bumi. Ketika berputar, bola langit itu membawa serta bintang-bintang bersamanya, sehingga semua bintang tampak terbit di timur, naik perlahan-lahan, bergerak sepanjang langit, dan akhirnya tenggelam di barat.

Untuk keperluan astrologi di masa lampau itu para pendeta Babilon menggunakan tujuh benda langit. Ke-7 benda itu dipercaya sebagai penjelmaan dewa dan dewi. Berbeda dengan bintang gemintang yang selalu saja memperlihatkan pola yang sama dari malam ke malam, ke-7 benda ini mengembara dari satu gugus bintang ke gugus bintang lainnya. Itulah sebabnya benda-benda ini disebut sebagi planet yang berarti pengembara. Ke-7 benda langit itu adalah Matahari dan Bulan (yang kemudian terbukti bukan planet), Merkurius, Venus, Mars, Jupiter, dan Saturnus.

Untuk memulai ramalan, bangsa Babilonia mula-mula ‘menggambar’ sebuah sabuk khayal yang meliliti bola langit. Lebar sabuk ini kira-kira 18 derajat dan posisinya sekitar 9 derajat melebar ke arah utara dari sebuah lintasan yang dinamakan ekliptika, dan 9 derajat ke selatannya. Ekliptika adalah sebuah lingkaran-yang juga khayal–di langit tempat Matahari terlihat bergeser ke timur di antara bintang-bintang setiap hari sebesar 10 (dinamakan ekliptika karena gerhana atau eklips hanya terjadi kalau Bulan sedang berada di ekliptika). Pergeseran ke timur ini berbeda dengan gerak Matahari setiap hari dari timur ke barat untuk terbit dan tenggelam.

Untuk keperluan astrologi, sabuk khayal dibagi menjadi 12 bagian sama besar, masing-masing mengambil wilayah sepanjang 300. Sabuk inilah yang disebut sebagai sabuk zodiak dan dihuni oleh 12 rasi bintang. Jika Matahari terlihat bergeser ke timur sepanjang ekliptika, maka ke-5 planet yang sudah disebutkan di atas (minus Matahari dan Bulan) juga terlihat bergeser ke timur sepanjang sabuk zodiak.

Tentu saja gerak Matahari sepanjang lingkaran ekliptika tidak begitu saja terlihat di langit malam. Para pengamat kuno itu hanya mencatat bahwa setiap hari Matahari ternyata selalu terbit terlambat sekitar 4 menit relatif terhadap bintang-bintang latar belakang yang ada pada waktu fajar. Dengan begitu, bintang-bintang yang tampak pada saat Matahari terbit selalu berlainan dari waktu ke waktu. Setelah sebulan, Matahari sudah bergeser sekitar 300, dan sesudah setahun akan terlihat terbit di sekitar rasi bintang yang sama lagi. Pergeseran ini menyebabkan Matahari juga terlihat mengembara di antara rasi-rasi bintang anggota zodiak. Pengembaraan itu berlangsung di bola langit di atas kepala kita sehingga Matahari tampak perlahan-lahan bergerak mengelilingi kita yang menetap di Bumi.

Pada hari pertama musim semi untuk belahan bumi utara, yaitu tanggal 21 Maret, Matahari singgah di sebuah titik yang disebut sebagai vernal equinox. Vernal equinox ini merupakan titik di bola langit tempat Matahari memotong ekuator langit untuk bergerak dari langit selatan ke utara dan menyebabkan belahan bumi utara yang dingin memasuki musim semi, dan belahan selatan yang semula hangat memasuki musin gugur. Dua ribu tahun sebelum masehi, vernal equinox terletak di rasi Aries, sehingga sering pula disebut sebagai ‘titik pertama Aries’. Titik ini menjadi titik permulaan rasi-rasi bintang yang dipakai dalam astrologi.

Dari vernal equinox, rasi Aries melebar kira-kira 300 ke timur, untuk kemudian bertemu dengan Taurus, Gemini, Cancer, Leo, Virgo, Libra, Scorpio, Sagitarius, Capricornus, Aquarius, dan Piesces. Semua nama-nama rasi bintang ini, kecuali Libra, adalah nama orang atau binatang yang diambil dari tokoh-tokoh pahlawan yang ada dalam mitos. Kata zodiac sendiri berarti lingkaran binatang.

Lama kelamaan, astrologi bukan hanya untuk meramalkan nasib raja beserta keluarganya dan negara, tetapi juga untuk meramal kehidupan sehari-hari orang-orang biasa. Di Babilonia, astrologi mencapai puncak pengembangannya sekitar 6 abad sebelum masehi, untuk kemudian menyebar ke Yunani dalam waktu dua abad. Pada masa itu setiap kuil pasti menyimpan catatan-catatan astronomis dan astrologis. Itulah masa-masa ketika astrologi menduduki tempat yang sangat penting dan terhormat di masyarakat. Para astrolog mempunyai kekuasaan yang hampir-hampir tidak terbatas; bukankah di tangan mereka terpegang nasib tiap-tiap orang, termasuk nasib raja dan negara?

Kunci untuk astrologi adalah horoskop. Horoskop inilah yang menunjukkan posisi setiap planet di sabuk zodiak ketika seseorang lahir. Para astrolog kemudian menafsirkan posisi itu. Salah satu ‘buku suci’ yang dipakai sebagai buku acuan untuk penafsiran astrologis adalah Tetrabiblos yang ditulis oleh Claudius Ptolemeus yang hidup pada abad ke-2. Pada masa Ptolemeus astrologi memang mencapai puncak pengembangannya.

Bagaimanakah interpretasi astrologis atas kelahiran seseorang?

Andaikan saja Anda dilahirkan antara tanggal 21 Maret sampai dengan tanggal 20 April. Menurut horoskop Anda berada di bawah naungan rasi Aries. Orang-orang Aries diyakini merupakan orang yang mempunyai pengaruh besar terhadap lingkungan sekitarnya, kreatif, tetapi terkenal tidak sabaran. Jika ketika Anda lahir ternyata Bulan sedang terbit, Anda cenderung pemurung. Jika pada saat itu Mars juga terlihat di rasi Virgo, Anda adalah orang yang suka mengikuti kata hati sendiri namun sebetulnya teramat cerdik. Masih banyak hal yang harus diperhitungkan sebelum seorang astrolog memulai ramalannya. Ia misalnya saja, harus memperhitungkan besar sudut yang dibentuk oleh sebuah planet dengan planet lainnya ketika kebetulan ada dua planet yang muncul bersamaan ketika Anda lahir.

Sekarang ini, vernal equinox sebetulnya sudah bergeser ke rasi Piesces. Hari pertama musim semi sebetulnya jatuh ketika Matahari memasuki rasi Piesces, bukan lagi rasi Aries. Jika Anda lahir antara 21 Maret dan 20 April, maka sebetulnya Anda berada di bawah naungan rasi Piesces; sedangkan rasi Aries menaungi orang-orang yang lahir antara 21 April sampai 20 Mei, yang dulunya berbintang Taurus.

Pergeseran ini disebabkan oleh gerakan menggasing yang terjadi pada sumbu Bumi. Selain berputar pada sumbunya, atau berotasi dengan kala rotasi 23 jam 56 menit sehingga terjadi pergantian siang dan malam, sumbu Bumi yang mengarah ke kutub langit sebetulnya juga membuat gerakan melingkar ibarat gerak sebuah gasing. Gerakan yang disebut sebagai presesi sumbu bumi ini amat lambat, sehingga untuk membentuk satu lingkaran penuh diperlukan 26.000 tahun. Gerak presesi menyebabkan setiap 2000 tahun, posisi relatif Matahari berpindah hampir sebesar 300 terhadap rasi-rasi bintang latar belakangnya.

Astrologi modern tidak mencatat perubahan ini; orang yang berbintang Gemini tetap saja Gemini, padahal ia sebetulnya berbintang Taurus. Sampai sekarang, banyak sekali orang yang menggantungkan nasibnya pada astrologi. Astrologi memang menarik, mungkin karena astrologi berbicara tentang manusia sehari-hari dengan segala kemungkinan duka dan sukanya. Mungkin itu juga alasan mengapa kepercayaan kuno ini tetap bertahan. Mungkin juga karena astrologi, jika diinterpretasikan secara lebih filosofis, sebetulnya menandakan determinisme mendasar dalam kehidupan manusia, yaitu bahwa segala sesuatu sudah ditentukan; astrologi dilihat sebagai salah satu cara untuk menafsirkan kehendak kosmik. Pertanyaan yang tertinggal adalah, sejauh mana kita rela menyerahkan peruntungan kita pada benda-benda fisik itu?

Penghormatan Untuk Bumi

Mitos dan astrologi sangat berperan dalam kegiatan sehari-hari bangsa-bangsa kuno. Bangsa Babilonia berhasil membuat tabel-tabel peredaran benda-benda langit, menyiapkan kalender yang meramalkan pergantian musim dan perubahan wajah bulan (sabit, purnama, sabit akhir, mati), mereka memetakan langit, mereka meramalkan terjadinya gerhana. Namun ternyata tidak sedikitpun lahir pemikiran teoretis mengenai mengapa benda-benda langit itu bergerak teratur. Segala pengamatan yang demikian cermat hanya untuk keperluan mitologi; tak ada penjelasan di luar mitos.

Ini berbeda dengan bangsa Yunani. Bangsa Yunani bukan bangsa yang membenamkan diri berkepanjangan dalam dongeng dewa dewi yang pada akhirnya sibuk berulah sendiri, sementara manusia harus menerima nasib yang tak dapat juga ia mengerti. Tragedi-tragedi Yunani yang dipentaskan berulang-ulang ternyata pada akhirnya membawa kekecewaan karena tetap saja tidak menghasilkan pengertian mengenai masalah-masalah kehidupan dan persoalan-persoalan alam.

Manusia ingin terbebaskan, ia ingin terbebaskan dari kungkungan alam yang terasa demikian kuat, ia ingin membebaskan diri dari kungkungan kekuatan-kekuatan gaib yang mencekam; dan pengetahuan adalah pembebasan. Peralihan menuju cara berpikir yang membebaskan ini tidak terlalu mengherankan juga munculnya, karena ketika kehidupan sosial di kota-kota Yunani kuno mulai berlangsung dengan tenteram orang pun mulai dapat beralih ke pemikiran yang lebih reflektif, merenung panjang; dan pada masa-masa awal perkembangan filsafat di Yunani, alam-lah yang mendapat perhatian pertama.

Bangsa Yunani juga terpukau pada alam, tetapi terlalu banyak persoalan alam yang menuntut penjelasan lebih mendasar daripada sekedar membiarkannya pada kemauan para dewa dan dewi yang tidak begitu jelas juga. Katakanlah bahwa planet Mars memang merupakan penjelmaan dewa perang, dan rasi merupakan penjelmaan tokoh pahlawan ataupun tokoh durjana yang oleh sesuatu alasan jadi menetap di langit, namun tetaplah harus ada alasan, mengapa semua gerak di langit itu kelihatan begitu teratur? Sekali-kali memang ada hujan meteor atau komet yang menakutkan, tetapi selebihnya langit adalah keteraturan dan keselarasan. Selalu saja dapat dikenali bahwa ada yang berubah di antara yang tetap. Sejarah filsafat ternyata memang dimulai ketika manusia berhasil membedakan antara yang tetap dan yang berubah-ubah, antara Ada dan Waktu; sejarah pemikiran dimulai ketika manusia berhasil membuat jarak terhadap ketakjubannya sendiri untuk mulai memikirkan sesuatu yang mungkin tersembunyi di belakang yang menakjubkan itu.

Untuk Thales dari Miletus yang sejauh ini boleh disebut sebagai filsuf pertama Yunani yang tercatat, langit adalah sekaligus sumber keberuntungan dan biang mala petaka. Sebuah kisah mengatakan bahwa ia berhasil menguasai dengan baik pemasaran buah-buahan di kotanya karena mampu memprakirakan pergantian musim dengan tepat. Thales memang filsuf sekaligus ilmuwan praktis. Ia tahu dengan pasti rasi-rasi yang akan muncul pada musim-musim yang tepat untuk bercocok tanam. Namun pada suatu malam, konon ia terlalu bergairah menatap bintang-bintang di langit sehingga ia tidak melihat sebuah lubang besar menganga di depannya.

Untuk mengetahui kapan Thales hidup, kita dapat melihat catatan yang menyebutkan bahwa ia sudah meramal tentang gerhana matahari yang terjadi menjelang perang antara Medes dan Lydian. Menurut perhitungan para astronom, memang ada sebuah gerhana matahari yang berlangsung di sekitar peristiwa itu; tepatnya pada tanggal 28 Mei 585 SM. Jika catatan mengenai Thales benar, berarti Thales hidup di sekitar abad ke-6 sebelum masehi.

Selain Thales, tercatat pula nama Anaximander dan Anaximenes dari Miletus yang merupakan filsuf-filsuf alam yang juga memulai kosmologi. Pada Anaximander misalnya, kita menemukan pertama kali keyakinan akan keteraturan alam semesta. Filsuf-filsuf pertama ini belum mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang bersifat kritis tentang alam, mereka menerima begitu saja dunia yang mereka lihat sebagai adanya. Bagaimanapun ada sebuah pertanyaan amat penting yang mendasari pemikiran-pemikiran mereka. Ketika Thales mengatakan bahwa air-lah dasar segala sesuatu di alam, sebetulnya bukan air itu sendiri yang penting, melainkan pertanyaan yang mengawalinya, yaitu adakah satu dasar untuk segala sesuatu di dalam alam? Sebuah pertanyaan yang selanjutnya melahirkan perdebatan amat lama.

Mereka juga merupakan orang-orang pertama yang tercatat mulai meninggalkan penjelasan yang mengandalkan mitologi. Mitologi mengacu pada kekuatan di luar alam untuk menjelaskan apa yang terjadi di dalam alam, sedangkan filsuf-filsuf alam mencari penjelasan di dalam alam itu sendiri. Anaximenes menjelaskan petir bukan dengan memanfaatkan tindakan Zeus, tetapi dengan mengacu pada awan dan angin. Soal bahwa penjelasan itu tepat atau tidak tepat, tidak penting juga. Yang pokok adalah mereka mulai menyingkirkan Zeus, Titan, Mars, dan lain-lainnya serta menggantikannya dengan tekanan udara, hembusan angin, rapatan material. Dengan perkataanlain, mereka mulai memberikan penjelasan berdasarkan prinsip-prinsip yang dapat dimengerti secara rasional.

Berbeda dengan ke-3 filsuf yang disebut di atas yang meyakini Bumi adalah sebuah benda datar, Pythagoras, filsuf dan matematikawan yang hidup pada paruh kedua abad ke-6 SM, percaya bahwa bentuk rancangan dasar alam semesta dan gerak di dalamnya berupa lingkaran dan bola. Ia membuat konsep alam semesta yang amat selaras secara geometris. Alam itu patuh pada hukum-hukum matematika. Ia juga mungkin merupakan orang pertama yang memakai kata kosmos untuk menggambarkan keteraturan langit.

Hanya saja Pythagoras mencampur adukkan fakta dengan kepercayaan mitisnya. Benda-benda langit yang berbentuk bola misalnya, ia lihat sebagai penjelmaan dewa dan dewi. Bersama dengan Bumi yang juga berbentuk bola, semua benda-benda langit bergerak dalam lingkaran-lingkaran sempurna untuk mengedari api kosmis yang mustahil dilihat oleh mata manusia. Dalam peredarannya, benda-benda langit menyanyikan nada-nada teramat selaras; hanya saja telinga fana manusia tidak mampu menangkap simfoni langit yang begitu merdu itu.

Filsuf alam yang penting juga dicatat dalam kaitan dengan kosmologi adalah Heraklitos yang hidup sekitar abad ke-5 SM. Berbeda dengan Thales dan Anaximander yang juga filsuf namun mungkin lebih seperti ilmuwan praktis, Heraklitos lebih tertarik pada bagaimana kosmologi dapat membangkitkan kebijaksanaan menyangkut status kehidupan manusia di dalam kosmos. Ia bermaksud membangkitkan minat orang-orang untuk mendengarkan logos–pertimbangan yang rasional dan benar mengenai alam, cara memandang yang melampaui kesibukan sehari-hari.

Heraklitos sendiri melihat dirinya sebagai juru bicara logos; ia mendengarkan alam yang berbicara dalam bahasa bersandi, ia memecahkan sandi itu, dan menginterpretasikannya. Apakah yang disampaikan oleh logos?

Dalam salah satu catatan yang dikumpulkan oleh Charles Kahn, The Art and Thought of Heraclitus (1979), Heraklitos mengatakan, “Bijaksanalah untuk bukan mendengarkan saya, tetapi mendengarkan logos, dan untuk menyetujui bahwa segala sesuatu adalah satu. Yang teratur itu (kosmos), yang sama untuk semua, yang bukan dibuat oleh Tuhan ataupun manusia, tetapi yang selalu ada dan akan selalu ada … Sekalipun logos ini selalu tersedia, manusia gagal memahaminya, baik sebelum mendengarkan maupun sesudahnya (atau “ketika mereka mendengarkan untuk pertama kali”) … Sekalipun logos dialami bersama, kebanyakan orang hidup seperti seakan-akan pemikiran mereka adalah milik pribadi … Mereka percaya hanya pendapat mereka sendiri”.

Kosmologi yang berangkat dengan Bumi sebagai pusat kegiatan kosmos mulai berkembang pada masa Plato (427-347SM). Gagasan Plato mengenai dua dunia, sekalipun dalam pengertian berbeda, terwujudkan dalam kosmologi melalui konsep dua bola alam semesta. Bola pertama adalah Bumi yang terletak di pusat sebuah bola kedua, yaitu bola raksasa berisi bintang-bintang. Di antara keduanya terletak planet-planet; Plato tidak paham bagaimana pola gerak planet di antara kedua bola itu.

Murid Plato, astronom dan ahli matematika yang sangat terkenal, Eudoxus (497-355 SM) menemukan jawabannya untuk Plato. Alam semesta Eudoxus terdiri dari Bumi yang dilingkupi oleh bola-bola raksasa. Semua bola itu mempunyai pusat yang sama dengan Bumi dan sama-sama berotasi tetapi dengan kecepatan yang berbeda-beda. Bola terluar merupakan bola tempat kedudukan bintang-bintang; bola ini berotasi setiap hari sehingga terjadilah pergantian siang dan malam. Di antara bola bintang-bintang dan Bumi, terdapat bola-bola tempat kedudukan planet-planet; bola-bola ini juga bergerak namun kecepatan geraknya berbeda-beda sehingga tiap-tiap planet juga kelihatan bergeser relatif terhadap bintang-bintang latar belakangnya dengan kecepatan yang berbeda satu dari yang lain.

Aristoteles (384-322 SM) memperkenalkan alam semesta yang terbelah antara wilayah langit etereal yang kekal, dan bumi yang fana. Kedua wilayah ini menerapkan hukum-hukum yang berbeda; hanya hukum-hukum Bumi yang dapat dimengerti oleh manusia.

Untuk Aristoteles, seluruh alam semesta adalah bola kosmis yang berhingga. Dalam alam semesta ini tentu tak ada yang tak berhingga; sepotong garis yang ditarik sepanjang-panjangnya pun pasti berhingga karena kalau tidak akan menembus ke luar alam semesta, dan itu tidak mungkin. Garis, dengan begitu, selalu tidak pernah lengkap, tidak pernah sempurna. Dengan alasan ini Aristoteles mengatakan bahwa hanya lingkaranlah yang merupakan bentuk paling sempurna dan lengkap, dan lingkaran merupakan bentuk yang diikuti oleh gerak kosmos. Gerak sempurna ini tak mempunyai awal dan tak mempunyai akhir.

Betapapun menariknya konsep Eudoxus dan Aristoteles mengenai alam semesta, namun tetap saja belum mampu menjelaskan beberapa keganjilan yang kerap teramati di langit. Bagaimanapun, sudah ada upaya sistematis untuk mencatat gejala alam yang diamati, membedakan yang tetap dan yang berubah, menyusun fakta dalam kerangka pemahaman yang lebih teratur, dan mencoba mempertanyakan secara kritis, mengapa demikian?

Sebuah gejala yang amat menggangu dan melahirkan pertanyaan yang belum juga terjawab adalah gerak planet Mars. Seperti Matahari, planet-planet akan tampak beringsut perlahan-lahan di antara bintang-bintang sepanjang tahun ke arah timur. Perpindahan posisi ini memang sangat pendek setiap malamnya, sehingga biasanya baru kelihatan setelah satu atau dua bulan, yaitu ketika planet sudah berpindah memasuki rasi bintang yang berbeda. Setelah beberapa waktu, planet akan terlihat kembali di rasi yang sama lagi.

Semua planet, kecuali Mars, Jupiter dan Saturnus, tidak pernah berhenti bergerak ke arah timur sepanjang tahun; tetapi Mars misalnya, sekali dalam setahun, kelihatan seolah-olah berhenti di langit malam, berbalik ke barat selama beberapa malam, untuk kemudian melanjutkan perjalanan rutinnya ke timur. Gerak membalik ini disebut sebagai gerak retrograd. Ternyata, selama berabad-abad belum seorang pun dapat menjelaskan, mengapa Mars bertingkah demikian aneh?

Sekitar abad ke-2, di kota Alexandria tinggal seorang astronom bernama Claudius Ptolemeus. Ptolemeus menyumbang banyak untuk astronomi seperti ia juga menyumbang banyak untuk astrologi; ia memang teramat menikmati pekerjaannya menamai bintang-bintang, mencatat kecerlangannya dengan teliti, mengamati gerak bintang dan planet, bahkan memberi makna setiap planet dan pengaruhnya pada kehidupan manusia, serta tentu saja juga mencatat ulah ganjil planet Mars.

Sejak awal Ptolemeus yakin bahwa gerak dalam alam adalah melingkar. Ia sempat menuliskan kekagumannya pada gagasan gerak dalam orbit lingkaran ini; ia mengatakan bahwa ia menyadari kefanaannya karena terlahir sebagai manusia, namun betapa terasa kakinya tidak lagi menapak di Bumi ketika dengan suka cita ia mengikuti rangkaian gerak melingkar beribu-ribu bintang di langit malam.

Ptolomaeus mempopulerkan gagasan yang amat ia yakini, yaitu bahwa Bumi merupakan pusat alam semesta. Sebagian besar gagasan Yunani sebelumnya memang cenderung geosentris seperti ini; Matahari, Bulan dan planet-planet beredar mengitari Bumi. Namun pada Ptolemeus gagasan ini memperoleh pengejawantahan geometri yang jernih sehingga gerak planet-planet dapat teramalkan dengan cukup tepat.

Menurut Ptolemeus, setiap planet mengedari Bumi dalam lintasannya sendiri-sendiri. Selain itu, setiap planet juga melakukan gerak putar dalam sebuah lingkaran mini. Untuk dapat membayangkan penalaran Ptolemeus ini, cobalah Anda meletakkan sebuah kursi di tengah ruang kosong. Berjalanlah mengitari kursi itu sambil badan Anda sendiri berputar-putar membentuk lingkaran kecil. Setelah melakukan satu kali putaran besar, tubuh Anda tentu sudah membuat puluhan lingkaran kecil. Ptolomeus menyebut lingkaran kecil ini episikel. Gerak planet-planet pada episikel inilah yang menyebabkan orang Bumi melihat planet, dalam hal ini Mars, melakukan gerak balik retrograd.

Ptolemeus menuliskan gagasan-gagasannya yang rumit mengenai alam semesta di dalam sebuah karya besar mirip ensiklopedi astronomi yang disebut Tata Agung atau yang dinamakan Almagest oleh cendekiawan Arab yang mempelajarinya beberapa abad kemudian. Karya ini mendapat sambutan hangat di banyak kalangan. Rupanya selain dinilai dapat menyingkap teka teki gerak Mars yang sudah berabad-abad membingungkan, karya Ptolemeus juga menimbulkan kebanggaan manusia Bumi sekalipun Ptolemeus sendiri tidak pernah mengklaim kosmologinya sebagai penggambaran realitas. Skema yang ia buat sebetulnya dimaksudkan sebagai representasi matematis untuk memprakirakan posisi planet-planet tiap saat. Namun Almagest diterima sebagai karya besar kosmologi dengan segala kebenarannya. Adakah tempat lain dalam jagad raya yang lebih pantas menerima penghormatan sebagai pusat seluruh alam semesta daripada Bumi yang dihuni oleh mahluk yang dipilih oleh Tuhan?

Mengusir Bumi

Untuk waktu yang amat lama, konsep geosentris Ptolemeus yang angkuh namun amat wajar itu dipercaya sebagai satu-satunya kebenaran mengenai alam semesta. Tidak ada pengajuan konsep-konsep baru, sehingga karya Ptolemeus itulah puncak pencapaian kosmologi untuk empat belas abad. Setelah runtuhnya Kekaisaran Romawi pada abad ke-5, kegiatan intelektual di Eropa memang seakan-akan meredup sampai hampir-hampir padam. Namun di dunia Islam, yang terjadi justru sebaliknya. Pusat-pusat pengetahuan yang mengalihbahasakan peninggalan karya-karya filsafat Yunani muncul dan bertebaran mulai dari Konstantinopel, Syria, sampai ke semenanjung Persia.

Semasa pemerintahan Harun-al-Rasyid di abad ke-9, berlangsung periode belajar besar-besaran di Arab. Berbagai karya filsuf Yunani diterjemahkan ke bahasa Arab termasuk Almagest karya Ptolemeus yang sudah disebut di atas. Astronomi dan geometri Yunani pun memasuki dunia Islam dan merangsang para astronom Arab untuk mengembangkannya. Dari dunia ini kita mengenal nama Al Batani (± tahun 850) yang menghitung kembali presesi equinox dan menyusun tabel astronomi; kita menemukan Ibnu al Haitham (965-1020), ahli fisika optik dan ahli metode eksperimental yang kelak banyak mempengaruhi perkembangan ilmu pengetahuan barat terutama melalui Roger Bacon dan Kepler; kita mengenal penyair Persia Omar Khayyam yang juga menulis aljabar.

Dunia ilmu pengetahuan dan filsafat modern barat berhutang pada dunia Islam untuk pelestarian dan pengembalian karya-karya besar Yunani klasik yang berperan dalam menyalakan kembali api pengetahuan Eropa. Pada abad ke-12 dan ke-13, ketika sebagain besar kegiatan keilmuan para cendekiawan Arab mulai menurun, seluruh karya-karya dalam bahasa Arab berpindah dan diterjemahkan kembali ke bahasa Latin di universitas-universitas Eropa.

Sementara itu, astronomi dan kosmologi tidak memberikan temuan-temuan menyolok selama abad pertengahan, namun minat pada astrologi tidak pernah berkurang dan ini membuat minat terhadap benda-benda langit tidak pernah berhenti. Barulah pada tahun 1543 terbit sebuah buku berjudul De Revolutionibus yang isinya secara radikal amat berbeda dengan Almagest. Sayangnya, penulis buku ini, Nicholas Copernicus, meninggal tepat pada tahun buku itu diterbitkan. Siapakah Copernicus yang berani mengusir Bumi dari tahta kehormatannya di pusat alam semesta?

Copernicus lahir Torun, Polandia Utara, tanggal 19 Februari 1473. Pendidikan awalnya kedokteran, tetapi Copernicus lebih tertarik pada astronomi sehingga ia mulai menekuni langit malam. Tidak mudah memahami bagaimana gagasan-gagasan anggun Copernicus dimulai dan berkembang; ia terlalu pendiam dan berhati-hati. Semua hasil pemikirannya tidak diumumkan pada siapapun, ia cukup menuliskannya pada ratusan halaman buku. Pandangan Copernicus pantas menimbulkan keributan. Ia mengulang pemikiran Aristarkhus dari Samos yang hidup lebih dari seribu tahun sebelumnya, yaitu bahwa Bumi bukan pusat alam semesta. Matahari-lah yang lebih tepat berada di tempat itu.

Pemikiran yang melandasi kosmologi pengubah dunia ini sebetulnya amat sederhana. Seseorang yang sedang bergerak dengan kecepatan yang tetap tidak selalu menyadari bahwa ia sedang bergerak. Kita sendiri sering mengalami bagaimana pohon, tiang listrik, rumah-rumah nampak bergerak padahal sebetulnya kitalah yang sedang bergerak. Dengan gagasan yang sama, Copernicus mengatakan bahwa Matahari dan planet-planet terlihat mengelilingi Bumi karena sebetulnya Bumi sedang bergerak mengelilingi Matahari. Semua planet mengedari Matahari.

Titik berangkat lain yang juga amat penting yang disampaikan oleh Copernicus dalam de Revolutionibus adalah keyakinannya bahwa Bumi hanya merupakan salah satu planet saja dari planet-planet yang mengedari Matahari. Dengan andaian ini ia dapat menyusun tata suryanya dan meletakkan Bumi di antara planet-planet lain. Merkurius merupakan planet terdekat ke Matahari, disusul oleh Venus, Bumi, Mars, Jupiter, dan Saturnus. Di luar orbit planet terjauh terdapat bintang-bintang. Alam semesta Copernicus adalah alam semesta berhingga; pusatnya dihuni oleh Matahari sedangkan tepiannya dihuni oleh bintang-bitang.

Dalam tata surya ini, letak Mars, Jupiter dan Saturnus lebih jauh daripada letak Bumi ke Matahari. Maka orbit Mars dan Jupiter serta Saturnus lebih besar daripada orbit Bumi, sehingga ke-3 planet itu mengelilingi Matahari dalam tempo yang lebih lama. Jika diandaikan Mars dan Bumi pernah bergerak dari titik yang sama, maka pada suatu ketika akan ada sebuah titik pada orbitnya saat Mars mulai tertinggal oleh Bumi yang bergerak dalam lintasan lebih kecil. Jika dilihat dari Bumi, keadaan ini menyebabkan Mars seakan-akan bergerak balik ke barat, berhenti sebentar, sebelum melanjutkan perjalanannya ke timur. Dengan cara ini Copernicus menjelaskan gerak retrograd planet-planet yang lebih jauh daripada Bumi ke Matahari yang seudah amat lama demikian membingungkan.

Untuk Copernicus, tidak ada model alam semesta yang melebihi keselarasan tata surya. Dalam bukunya yang menjadi amat terkenal dan sempat diperdebatkan untuk waktu yang lama, Copernicus menulis, “Di dalam kuil yang demikian indah ini, adakah kedudukan yang lebih baik daripada sebuah tempat yang memungkinkan lampu itu menerangi seluruh ruang secara serentak?… Kita pun menemukan alam semesta dengan kesetangkupan yang begitu menakjubkan serta penggabungan yang begitu selaras yang tak mungkin diperoleh dengan jalan lain … Betapa mempesona karya suci Yang Maha Sempurna”.

Karya Copernicus harus dilihat lebih daripada sekedar pergantian paradigma di dalam astronomi. Ditinjau dari sudut pandang yang lebih luas gagasan Copernicus membawa serta pemikiran yang sangat penting, yaitu pengenalan kritis bahwa apa yang disaksikan sebagai hasil pengamatan obyektif ternyata bergantung pada pengamatnya; atau dengan perkataan lain kondisi subyektif ikut menentukan pengertian yang akan kita dapatkan. Matahari terlihat bergerak karena sebenarnya kitalah yang bergerak bersama Bumi. Maka sekalipun Copernicus menggusur manusia manusia dan Bumi kebanggaannya dari pusat alam semesta, sebetulnya Copernicus menunjukkan bahwa manusia berperan besar dalam menentukan bagaimana alam semesta akan tampak kepadanya.

Gagasan Copernicus adalah suatu proses transformasi dalam konsepsi manusia mengenai alam semesta. Selain itu gagasan Copernicus juga merupakan proses pergeseran pemahaman manusia mengenai hubungannya dengan alam semesta. Filsuf ilmu pengetahuan Thomas Kuhn dalam bukunya The Copernican Revolution: Planetary Astronomy in the Development of Western Thought (1995) melihat revolusi Copernicus sebagai suatu titik balik di dalam perkembangan intelektual masyarakat Barat yang berpengaruh besar pada perubahan konseptual baik dalam filsafat dan maupun agama. Dalam pandangan Kuhn, ada tiga tataran makna tempat revolusi Copernicus bekerja.

Tataran makna pertama bersifat astronomis, yaitu pembaharuan konsep-konsep dasar astronomi; tataran makna kedua bersifat keilmuan yang lebih luas, yaitu perubahan radikal dalam pemahaman manusia tentang alam semesta yang mencapai puncaknya pada Newton; dan yang ketiga bersifat filosofis, yaitu sebagai bagian dari peralihan pemahaman masyarakat Barat atas nilai-nilai.

Bagaimanapun, apa yang sekarang kita kenal sebagai Revolusi Copernicus baru berlangsung lama sesudah itu. Tidak mudah mengubah pandangan yang telah terpateri selama berabad-abad. Tak sedikit orang menilai Copernicus tidak waras. Dewan gereja bahkan melarang gagasan Copernicus untuk dipelajari. Manusia merasa kedudukannya direndahkan; bukankah manusia adalah makhluk yang dipilih Tuhan untuk menjadi wakilnya di Bumi dan dengan begitu pantas menempati pusat kegiatan alam semesta?

Dalam konteks ini menarik sekali untuk membaca pengantar yang dituliskan oleh Andreas Osiander di dalam buku de Revolutionibus, “Hipotesis ini tidak perlu benar, atau bahkan seakan-akan benar; tetapi satu hal saja sudah cukup–yaitu bahwa hipotesis ini menyuguhkan perhitungan yang sesuai dengan pengamatan”. Di sini Osiander bermaksud menekankan bahwa temuan Copernicus cukup dilihat sebagai sarana intelektual tetapi tidak perlu dilihat sebagai kebenaran. Alasannya, jika semata-mata dilihat sebagai sarana, maka tentu saja tidak perlu dipermasalahkan ketidaksesuaiannya dengan ajaran gereja waktu itu yang berpegang pada konsep geosentris. Bukankah konsep heliosentris itu bukan suatu kebenaran? Buku Copernicus baru dibebaskan dari daftar hitam gereja tahun 1757.

Keselarasan Dunia

Di antara kesibukan orang menentang ajaran Copernicus, Johannes Kepler (1571-1630) dengan tenang dan penuh kepercayaan diri mempelajari tulisan-tulisan peninggalan Copernicus.

Kepler bekerja sebagai asisten astronom Denmark kenamaan, Tycho Brahe (1546-1601). Kepler sendiri dilahirkan di Jerman. Ia menghabiskan masa kecilnya di sebuah seminari. Untuk Kepler kecil Tuhan bukan sekedar Sang Maha Penguasa atau Sang Maha Pengasih yang menentukan mana yang boleh dan mana yang tidak boleh. Tuhan adalah sekaligus Daya Agung Pencipta Kosmos. Rasa ingin tahu kanak-kanaknya yang teramat besar tidak pernah dapat ditaklukkan oleh rasa takut terhadap kebesaran Tuhan; ia terus mengajukan pertanyaan-pertanyaan.

Kepler terus bertanya, mengapa ada jarak di antara tiap-tiap orbit planet dalam tata surya Copernicus? Bagaimana gerak planet mengedari Matahari sebenarnya? Apakah planet memang beredar dalam orbit-orbit berbentuk lingkaran sempurna seperti kata Copernicus? Belum pernah pertanyaan-pertanyaan seperti ini diajukan sebelumnya.

Kepler beruntung karena mewarisi semua catatan astronomis Brahe yang amat teliti ketika Brahe meninggal. Ia tidak menyia-nyiakan harta yang amat berharga itu. Setiap catatan ia pelajari dengan cermat. Selama tiga tahun ia mencoba berbagai model orbit tanpa henti-hentinya. Pada akhirnya ia berkesimpulan bahwa semua planet beredar mengelilingi Matahari dalam lintasan yang berbentuk elips. Matahari tidak terletak di pusat elips itu, melainkan di salah satu titik apinya.

Berbeda dengan gerak yang selalu serba sama pada sebuah orbit yang berbentuk lingkaran, gerak pada lintasan bujur telur tidaklah sama di semua titiknya. Sebuah planet akan mengalami penambahan kecepatan ketika berada di sekitar titik terdekatnya ke Matahari. Titik terdekat ini disebut sebagai perihelion; sedangkan titik terjauh disebut aphelion. Ketika menjauh, kecepatan planet akan terus berkurang sampai mencapai minimum di aphelion.

Kepler menuangkan gagasan mengenai bentuk lintasan planet mengelilingi Matahari ini dan gerakannya dalam hukum-hukum yang kelak dikenal sebagai hukum pertama dan kedua Kepler. Hukum ke-3 lahir beberapa tahun kemudian, dan dituliskan dalam sebuah buku yang berjudul Keselarasan Dunia (Harmonies of the World).

Keselarasan Dunia bukan hanya mencerminkan keteraturan gerak planet, tetapi juga keindahan tata surya itu sendiri. Keselarasan dunia adalah keteraturan gerak planet-planet; keselarasan dunia adalah hukum-hukum yang menjelaskan gerak itu; keselarasan dunia adalah keindahan musikal. Untuk Kepler yang berperasaan amat halus, Tuhan kini bulan lagi sekedar arsitek geometri yang mengatur gerak dalam alam sebagaimana pernah ia tuliskan (“Geometry … it is co-eternal with the mind of God. Geometry is God Himself”), tetapi Ia juga adalah Musikus Maha Agung. Tuhan menuangkan peribahasa musikal yang khas pada tiap-tiap planet sehingga ketika planet-planet bergerak mengelilingi Matahari, mengalunlah nada-nada yang bervariasi begitu elok. Tidak ada planet yang menyanyikan nada tunggal. Tata surya Kepler menyuarakan keselarasan nada yang mengingatkan kita kembali pada simfoni langit Pythagoras sekitar 20 abad sebelumnya.

Secara matematis, hukum ke-3 Kepler menyatakan bahwa jika periode (waktu yang diperlukan untuk melakukan satu kali putaran mengelilingi Matahari) planet dipangkatkan dua, maka kita akan memperoleh bilangan yang merupakan pangkat tiga dari jarak planet ke Matahari. Ini berarti semakin jauh sebuah planet dari Matahari, semakin lambat gerakannya. Hukum yang dilambangkan dengan p2 = a3 ini (dengan p adalah periode dan a menyatakan jarak planet ke Matahari dalam satuan astronomi, SA; 1 SA = jarak Bumi-Matahari) amat sederhana sehingga mudah dimengerti. Sebagai contoh, ambillah planet Mars yang jaraknya 1,5 SA dari Matahari sehingga diperoleh a3 = 1,5 x 1,5 x 1,5 = 3,375. Dari angka 3,375 ini kita menghitung harga p, yaitu 3,375 = 1,8; periode Mars mengelilingi Matahari adalah 1,8 tahun. Hubungan selaras ini berlaku untuk semua planet dalam tata surya; sebuah ciri alam dapat dimengerti secara sederhana.

Dari manakah Kepler mengkomposisikan musik langit? Kepler menghitung kecepatan planet sepanjang orbitnya, lalu mencari frekuensi nada yang bersesuaian. Akibat kecepatan yang berbeda-beda sepanjang lintasannya, nada yang dihasilkan tidak monoton melainkan terentang sepanjang selang musik yang jelajah frekuensinya merupakan fungsi kelonjongan orbit planet. Setelah menghitung kecepatan gerak Bumi mulai dari aphelion hingga ke perihelion, Kepler menyimpulkan bahwa Bumi melagukan mi-fa-mi sepanjang masa; ia segera menafsirkan nyanyian Bumi ini sebagai miseria-fames-miseria yang artinya kesengsaraan silih berganti dengan kelaparan. Kepler memang hidup dalam kepedihan yang sepertinya tiada hendak berakhir. Ia hidup dalam kemiskinan dan kesengsaraan, dan konon dalam perkawinan yang tidak pernah bahagia. Hanya delapan hari setelah berhasil menemukan hukum keselarasan dunia, istri dan anak Kepler meninggal. Sedangkan ibunya dipenjarakan karena dituduh tukang sihir. Kemiskinan pula yang memaksa Kepler membuka praktek astrologi; sebuah pekerjaan yang sebetulnya amat ia tidak ia sukai. Ketika meninggal, pada batu nisan Kepler tertulis kata-kata yang ia susun sendiri, “I measured the skies, now the shadows I measure. Sky-bound was the mind, Earth-bound the body rest.”

Kepler bukan hanya astronom dan musikus tata surya. Ia juga dikenal sebagai penulis fiksi ilmiah. Bukunya yang berjudul Somnium berkisah tentang suatu pengembaraan ke Bulan. Hanya saja sebagai seorang ilmuwan, Kepler tidak berani berkhayal terlalu jauh untuk membayangkan wahana antariksa yang akan membawanya ke sana dalam sekejap. Supaya aman, Kepler memulai kisahnya sebagai sebuah mimpi. Namun setelah orang dapat mengamati Bulan dengan teropong, terbuktilah betapa mengagumkan gambaran Kepler mengenai topografi Bulan yang sesungguhnya tidak pernah ia lihat.

Hampir pada waktu yang bersamaan dengan masa Kepler hidup, di Italia juga dikenal seorang ilmuwan bernama Galileo Galilei (1564-1642). Galileo adalah pengikut Copernicus yang setia dan habis-habisan membela konsep heliosentris Copernicus, tetapi ia tidak terlalu berminat pada gagasan Kepler, orang yang ia sebut memegang kekuasaan atas gerak Bumi di tangannya.

Sumbangan terbesar Galilelo pada dunia astronomi adalah pemakaian teropong untuk melihat benda-benda langit. Ia merupakan orang pertama yang melihat Bulan dengan lebih jelas, sehingga menyimpulkan bahwa permukaan bulan tidak rata dan licin serta mungkin ada lautan seperti di Bumi. Untuk ilmu pengetahuan khususnya fisika dan mekanika, Galileo menyumbang hukum gerak. Ia mempelajari gerak yang mengalami percepatan; ia mempelajari benda-benda jatuh dan menemukan bahwa benda jatuh selalu bergerak dipercepat. Galileo juga mencatat empat satelit pengiring Jupiter, serta memperkaya daftar katalog bintang. Melalui pengamatannya atas Jupiter dan bulan-bulan yang mengedarinya inilah Galileo menyebarkan keyakinannya akan kebenaran konsep tata surya Copernicus.

Berbeda dengan Kepler yang bekerja dalam keheningan dan Copernicus yang luar biasa hati-hati, Galileo berani menentang dogma gereja Katolik yang masih berpegang pada ajaran Ptolomeus. Galileo selalu bertengkar dengan para penentangnya. Ia dikucilkan dari kehidupan kerohanian gereja, dan tidak diperkenankan mengumumkan temuan-temuan ilmiahnya. Bukunya yang terkenal adalah The Sidereal Messenger (Sidereus Nuncius; Utusan Bintang), tetapi di dalam buku The Two Great Systems of the World yang sangat terkenal itulah Galileo melawankan tata heliosentris dan tata geosentris.

Galileo dijuluki si mulut besar dan si tukang bertengkar. Ia berani menentang kekuasaan gereja demi kebenaran ilmiah yang ia yakini. Pernah ia menulis, “In questions of science the authority of a thousand is not worth the humble reasoning of a single individual”. ‘Dosa’ terbesar Galileo adalah karena ia berpegang pada kepercayaan bahwa konsep Copernicus adalah suatu kebenaran, bukan hanya alat seperti diusulkan oleh Osiander. Nama Galileo baru dipulihkan dari daftar pengucilan gereja pada dasawarsa 80-an abad ini.

Gagasan Copernicus sendiri baru menjadi sebuah revolusi yang ikut berperan dalam revolusi ilmu pengetahuan secara umum melalui hukum-hukum gerak planet Johannes Kepler (1571-1630), tafsiran matematis Galileo Galileo (1564-1642) dan konsepsi mekanistik Isaac Newton (1642-1727). Siapakah Newton? Ia dipercaya sampai sekarang merupakan ilmuwan terbesar yang pernah ada.

Seutas Tali Pengikat

Pada tahun Galileo meninggal, di Colsterwoth, Inggris, pada tanggal 25 Desember lahir seorang anak laki-laki yang diberi nama Isaac Newton. Pada usia 22 tahun Newton sudah menemukan kalkulus diferensial dan tidak lama sesudahnya menemukan sifat paling mendasar cahaya yaitu bahwa cahaya yang terlihat putih sebetulnya dapat diurai dalam spektrum warna-warna pelangi.

Pada masa Newton hidup, orang tidak lagi terlalu memasalahkan posisi Bumi di dalam alam semesta; begitu juga aturan-aturan yang dipatuhi oleh Bumi dan planet-planet lain di dalam keluarga Matahari. Bukankah sudah ada hukum Kepler? Sekalipun demikian, untuk Newton masih banyak sekali pertanyaan yang harus diajukan dan dicarikan jawabannya. Mengapa planet bergerak mengelilingi Matahari? Mengapa pula Bumi mengedari Matahari? Jika alasannya adalah tarikan dari Matahari, seperti yang secara intuitif pernah dengan tajam diajukan oleh Kepler, mengapa Bumi tidak jatuh saja ke Matahari? Kepler juga tidak berhasil menjelaskan mengapa ada perubahan kecepatan planet ketika mendekat dan menjauh dari Matahari.

Hukum Kelembaman merupakan sumbangan besar Newton yang pertama untuk ilmu pengetahuan. Sumbangannya yang kedua adalah hukum gravitasi yang mempunyai kekuatan luar biasa untuk mengubah dunia dan memungkinkan dunia memasuki era ilmu pengetahuan dan teknologi seperti yang sejauh ini sudah tercata dalam sejarah. Newton memang tidak pernah sampai pada makna apakah gravitasi sesungguhnya; namun ia berpendapat bahwa–seperti dituliskan dalam General Scholium yang ditambahkan pada bagian ke-3 bukunya, Principia–cukuplah kita tahu bahwa gravitasi sungguh-sungguh ada.

Cerita paling terkenal mengenai penemuan gravitasi adalah konon pada suatu hari Newton kejatuhan buah apel di kebun belakang rumahnya dan kemudian pulang membawa hukum-hukum gravitasi. Cerita ini sebetulnya hanya anekdot yang diciptakan penyair Perancis Voltaire. Newton tidak pernah kejatuhan apel, tidak juga melihat apel jatuh dulu untuk menemukan gravitasi. Ia hanya menyatakan dengan kepastian bahwa gaya yang telah menyebabkan sebuah apel jatuh ke tanah dari pohonnya adalah gaya yang sama yang telah menyebabkan Bulan tetap pada orbitnya mengedari Bumi. Gaya itu pula yang menyebabkan Bumi dan planet-planet lain mengedari Matahari. Gravitasi ibarat seutas tali yang menahan planet-planet sehingga tidak lepas dari Matahari.

Newton menemukan gravitasi melalui pendekatan teoretis. Mula-mula ia berdalil bahwa sebuah benda yang bergerak tanpa pengaruh gaya, akan cenderung terus bergerak lurus tanpa melenceng, menyimpang atau berhenti. Inilah Hukum Kelembaman. Bulan seharusnya juga bergerak saja lurus, tetapi mengapa ia justru melingkari Bumi sekalipun tak ada apa-apa yang dapat kelihatan oleh mata yang menghubungkan Bulan ke Bumi ? Dengan mengacu pada temuan Kepler, ternyata planet juga tidak bergerak lurus; berarti ada gaya yang sudah bekerja pada planet sehingga orbitnya menjadi elips. Gaya itu tentulah berasal dari Matahari. Newton menyebutnya gravitasi.

Hukum gravitasi menunjukkan bahwa besar gaya yang bekerja di antara dua buah benda ternyata sebanding dengan massa yang dikandung benda itu, tetapi berbanding terbalik dengan jarak di antara keduanya. Kian jauh jarak antara dua benda, kian lemah gaya yang bekerja di antaranya; jika benda menjauh 2 kali jarak asalnya, gravitasi menjadi tinggal seperempatnya.

Gravitasi Newton berlaku di mana-mana; itu sebabnya hukum gravitasi disebut sebagai hukum gravitasi universal. Seakan-akan tak ada lagi tempat di dalam alam semesta yang tidak bisa dijelaskan melalui hukum Newton; bahkan ke-3 hukum Kepler yang ditemukan secara empiris dengan mengadalkan catatan-catatan pengamatan dapat diturunkan secara teoretis dari prinsip-prinsip gravitasi Newton.

Teori Newton membuka lapangan pemahaman baru di dalam alam; gravitasi menyingkap banyak hal dalam alam semesta yang semula begitu seperti teka teki. Gravitasi menjelaskan mengapa planet bergerak melambat ketika berada di aphelion; bukankah kekuatannya berkurang dengan jarak? Gravitasi menyingkap mekanika benda langit; gravitasi mengantarkan para astronom pada penemuan planet Neptunus (1846) ketika mereka mendapatkan bahwa planet Uranus bergerak tidak sesuai dengan ramalan teori Newton; teori Newton pula yang mengawali penemuan planet terjauh Pluto (1930); teori Newton pula yang memungkinkan satelit-satelit dilemparkan ke luar angkasa Bumi dan dengan setia mengintai tiap perubahan di Bumi dari orbit ratusan hingga ribuan km, atau memungkinkan seluruh dunia kini saling bertutur dengan mudah; puluhan penjelajahan antariksa akan mustahil pula terlaksana tanpa temuan dan perumusan Newton.

Newton memang merupakan orang pertama yang merenungkan sebuah konsep terpadu untuk menjelaskan keragaman alam lalu menerjemahkannya ke bahasa matematika. Ia menunjukkan bahwa gejala-gejala yang ada dalam alam dapat secara rasional dipelajari, bahkan diramalkan. Alam semesta Newton adalah alam semesta deterministik, sudah ditentukan semua sejak awal. Melalui Newton, impian filsuf Perancis René Descartes akan sebuah alam semesta yang bekerja ibarat sebuah Mesin Raksasa, terwujudkan. Sekali diputar untuk bekerja, mesin ini akan terus bekerja. Mesin ini juga ibarat sebuah jam mekanik yang terdiri atas banyak komponen namun saling menggerakkan satu dengan yang lain.

Seluruh semesta kini adalah sebuah mesin yang dapat dipelajari, diramalkan, dikuasai dan dikontrol, serta diubah sesuai kehendak manusia. Konsepsi Aristoteles yang memilah alam atas wilayah duniawi yang fana dan wilayah eterial yang kekal serta tak terjangkau hukum-hukum alam, runtuh bersama hukum-hukum mekanika yang bekerja tanpa pembedaan pada seluruh wilayah alam semesta. Tidaklah berlebihan jika Newton menulis di dalam Principia, “I now demonstrate the frame of the System of the World”. Sejarah fisika menunggu lama sekali sebelum mencatat kehadiran jenius berikut yang menambah ukiran pada wajah alam semesta.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s