Akhir Sebuah Milenium

Karlina Supelli

Dunia sekitar ramai benar sekarang ini, ketika kita bukan saja sedang menjelang akhir sebuah tahun tetapi juga akhir sebuah milenium. Kepanikan melanda. Yakinkah Anda bahwa perjalanan Anda, lift kantor Anda, tempat pengisian bahan bakar, dan lain-lain menyangkut kehidupan sehari-hari Anda, tidak terganggu pada hari pergantian? Sudahkah Anda bersiap untuk menyelamatkan seluruh data komputer Anda? Akhir sebuah milenium yang melahirkan bisnis baru. Bisnis kepastian bahwa pergantian waktu tidak memporakporandakan kerja bertahun-tahun dan rencana masa depan Anda.

Benarlah, bahwa seluruh peradaban yang dominan di muka Bumi ini adalah peradaban tentang waktu. Waktu, seperti anak panah melesat ke masa depan tanpa terbalikan, adalah dasar untuk eksistensi. Identitas saya adalah kesinambungan pengalaman yang dilekatkan oleh ingatan. Waktu mengukur segala sesuatu dan memasukkan semua yang akan lenyap dari ruang ke dalamnya, kata pemikir Maroko Muhammad Al-Jabiri. Itulah sebabnya waktu begitu mengerikan, seperti Betara Kala Sang Raksasa Penguasa penelan Matahari–simbol waktu itu sendiri.

Ini semua karena manusia memerlukan epok, pembatasan yang membingkai tindakannya karena eksistensinya yang terbatas senantiasa mencemaskan dirinya sendiri.

Adalah daya di dalam akal budi yang memungkinkan manusia menata seluruh pengalamannya ke dalam ruang dan waktu; begitu pendapat filsuf Jerman Kant. Ia menolak gagasan ahli fisika Inggris Isaac Newton yang mengandaikan waktu dan ruang sebagai maujud mutlak di luar benak manusia (sehingga ketika jam di sakunya berdetak satu kali seluruh alam semesta bertambah tua sedetik). Maksud Kant, waktu sebetulnya tidak ada. Ia ada di dalam benak yang juga cenderung menata segala sesuatu secara kuantitatif sehingga lahir juga satuan-satuan waktu. Salah satu yang terpenting untuk manusia, tahun, tak lebih dari sebuah kejadian amat lokal di dalam sejarah kosmis, yaitu kala edar Bumi mengelilingi Matahari.

Satu milenium? Kalikan saja seribu.

Ini, tentu saja, kalau kita berpikir kuantitatif, yang seringkali kehilangan maknanya seketika perubahan-perubahan kualitatif menunjukkan kedahsyatannya. Lihat saja abad demi abad sepanjang milenium ini, yang tidak lain adalah keluarbiasaan manusia merentang kemungkinan-kemungkinan untuk menekankan kehendak bebasnya atas keniscayaan alam. Puncaknya tercapai di abad ke-20 ini. Bukan saja manusia berhasil membebaskan diri dari daya-daya alam yang mengungkung dan mengancamnya selama beribu-ribu tahun, di dalam paruh akhir milenium ini ia mampu menundukkan daya-daya itu hingga menggapai perbatasan terakhirnya, antariksa. Namun, untuk kedua hal itu juga kita mencatat dua tragedi besar.

Pertama, Kematian Hitam 1348-1350 yang dicatat dengan mengerikan oleh Barbara Tuchman (A Distant Mirror, 1978). Dalam enam bulan sepertiga penduduk wilayah sepanjang India sampai Islandia (lebih dari 20 juta orang) musnah akibat wabah pes tak terkendali. “Sejarah tidak pernah mengulang diri,” kata Voltaire, “Manusia senantiasa.” Dan terjadilah kebinasaan besar berikutnya. Lima puluh juta penduduk Bumi mati dalam Perang Dunia II 1939-1945. Dua belas juta di antaranya, dibasmi secara sistematis dan keji dalam pembunuhan rapih dan terencana di bawah kebijakan satu orang saja, Hitler; 170 ribu mati hanya beberapa detik setelah sebuah “maha karya ilmu fisika murni” berdaya musnah takterkirakan (sebelumnya) dijatuhkan Pasukan “Pembebas” Sekutu di Hiroshima dan Nagasaki.

Keduanya, betul-betul permainan dahsyat keniscayaan alam dan kehendak bebas manusia di dalam rentangan waktu yang terbentang 600 tahun.

Waktu mungkin adalah cara alam menjaga agar akibat pergumulan keduanya tidak terjadi serentak; sehingga manusia bisa belajar karena ia pada dasarnya adalah ”Aku yang peduli (Jerman: Sorge),” seperti gumam filsuf Jerman Heidegger. Di dalam aku yang peduli itulah temporalitas berstruktur. Aku menjadi keterbukaan, dan masa lampau mempunyai arti dalam kekinian yang terus bergerak ke kemungkinan-kemungkinan masa yang akan datang.

***

Akhir sebuah milenium. Apalah artinya, kecuali terpenuhinya satu kali putaran Bumi mengedari Matahari, untuk meneruskan edaran ke milenium berikutnya. Demikian berjalan empat ribu lima ratus juta tahun; seumur Tata Surya.

Namun, kebanyakan orang bergegas, membuat laporan, refleksi ataupun rancangan selain kegemparan Y2K itu. Justru karena itulah satuan waktu ini menjadi berarti. Yaitu ketika manusia menjadikannya sebagai bagian dari dunia bermakna manusiawi, simbol eksistensi, kerangka kerja tempat realitas ditata dan dinamakan.

Demi makna simbolik yang dapat menyebut gerakan gasing Bumi dalam berotasi pada sumbunya, setiap periode dua milenium mempunyai nama. Kita baru saja meninggalkan dua ribu tahun Era Piesces (0-2000), dan memasuki dua ribu tahun Era Aquarius. Nama-nama ini lebih untuk kepentingan astrologi, ramal meramal peruntungan berdasarkan kedudukan benda-benda langit yang secara ilmiah tidak pernah bisa dipertanggungjawabkan.

Namun, ketika milenium ini akan ditutup dengan sebuah abad yang sudah tercatat sebagai abad paling mengerikan, sampai melahirkan konsep kejahatan terhadap kemanusiaan sehingga pelakunya adalah hostis humani generis (musuh seluruh kemanusiaan), tidaklah berlebihan juga jika kata kunci yang melekat di nama itu diharapkan bukan sekedar ramalan tentang milenium baru, tetapi paradigma yang akan melandasinya.

Kata kunci untuk periode 2.000 tahun ke depan ternyata adalah “Kemanusiaan.”

(Esai ini dimuat dalam Majalah Forum, Desember 1999).

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s