Category: Budaya

Proses Pembentukan Bahasa Nasional Indonesia

Oleh: Hersri Setiawan

Bahasa Indonesia berasal dari bahasa Melayu yang berakar di pantai timur Sumatera. Karena sejarah perkembangan kehidupan ekonomi, bahasa Melayu kemudian mampu memperluas batas-batas wilayahnya sendiri dari batas-batas regional menjadi batas nasional, dan atas dasar itu bahasa Melayu diperkaya baik dalam logat atau dialek maupun dalam peristilahan, idiom dan sintaksis. Dalam perkembangannya kemudianbahasa Melayu sebagai lingua-franca tidak sekedar mendukung peranan ekonomis saja, tetapi juga peranan-peranan sosio-kultural dan politik, akhirnya tumbuh sebagai lingua-franca bagi seluruh nasion Indonesia. Lanjut membaca

Debat di Kamsing

Hersri Setiawan

Seni dan Hiburan Racun?

Perbenturan pendapat dalam menyikapi kehidupan “kesenian” (sebenarnya lebih tepat harus disebut saja “hiburan”[1]) terjadi ketika aku menjadi koordinator atau pengurus kerja di Unit XIV Bantalareja. Itu berarti dalam tahun 1972. Ketika itu kehidupan panggung hiburan di unit-unit Tefaat Buru memang sudah terlalu marak. Barangkali di semua unit, pada saat itu, sudah berdiri gedung kesenian yang tentu saja tidak pernah sepi. Walaupun keramaian itu pada umumnya berlangsung satu kali dalam satu-dua bulan. Tapi bunyi petikan gitar atau gesekan biola di barak sana-sini, dan bunyi saron atau gambang di panggung kesenian bisa terdengar kapan saja pada sore dan petang hari menjelang dan setelah salat isya. Lanjut membaca

SURAT BUDAYA 12: Band Markas Komando (3)

Hersri Setiawan

[dari Di Sela Intaian]

kenangan tiga untuk basuki effendy

Demikianlah!

Band “Bantala Nada” Unit XIV Bantalareja itulah yang mendapat panggilan, tugas tampil di panggung hiburan ibukota Tefaat Buru, Namlea. Korve hiburan dalam rangka mengantar kepergian Letkol A.S. Rangkuti, sekaligus menyambut kedatangan Letkol Samsi M.S, sebagai penggantinya selaku Komandan Tefaat. Mengapa band dari Unit UIV Bantalareja? Karena di unit-unit lain kegiatan musik mereka, jika pun sudah ada, belum melembaga seperti halnya di Unit XIV Bantalareja. Lanjut membaca

Surat Budaya 11: Band Markas Komando (2)

Hersri Setiawan

[dari Di Sela Intaian]

Kenangan dua untuk basuki effendy

Bung Basef,

Mari kita teruskan cerita tentang kenangan yang lalu.

Ketika itu diumumkan keputusan Dan Unit memecat Basuki Effendy selaku koordinator atau pengatur kerja Unit XIV Bantalareja [catatan 1]. Sejak itu juga bagi Unit XIV Bantalareja, perbendaharaan lagu terlarang oleh Orde Baru bertambah dengan dua lagu lagi. Sesudah semua “lagu lekra” dan “lagu p-k-i” serta “Genjer-Genjer” sejak akhir 1965 dinyatakan terlarang, sekarang ditambah dengan “Larilah, Hai Kudaku!”, sebuah lagu negeri jiran Malaya yang pernah sangat terkenal pada masanya, dan “Come Back To Sorrento”, lagu barat populer yang juga pernah sangat populer di Indonesia awal 1950-an. Jauh sebelum peristiwa G30S terjadi. Tidak ada hubungan antara Sorrento, sebuah kota di Italia dengan PKI di Indonesia; demikian pula tidak ada hubungan antara “kuda binal” penyanyi tampan S. Effendy dengan para tapol “G30S PKI”!

*** Lanjut membaca

Surat Budaya 10: Band Markas Komando

Hersri Setiawan

[dari “Catatan Di Sela Intaian”]

Kenangan untuk Basuki Effendy 

Almarhum Basuki Effendy, sutradara dan aktor film; salah satu filmnya yang digarap bersama alm. Kotot Soekardi, “Si Pincang”, mendapat penghargaan internasional dalam festival film di Praha; anggota dewan harian pimpinan pusat Lekra; terakhir tinggal di Jakarta Selatan, sampai tutup-usia (2007).

Oei Hay Djoen dan Basuki Effendy, ca. 1960

Lanjut membaca

Surat Budaya 7: Soyang Operetta Satire Sosial

Hersri Setiawan

“SOYANG”

“folklore” teater anak desa

satire sosial “human trafficking” masa kini

Pengantar

Dalam Surat Budaya 6, “Tentang Lekra – apa dan bagaimana”, ketika saya menyinggung tentang hubungan yang tidak terpisahkan antara seni dan kehidupan, antara “bahasa seni” dan “bahasa perjuangan hidup”, saya ajukan sebagai contoh permainan teatral anak-anak, “Soyang”. Barangkali karena alasan itulah (alm) Buyung Saleh, alias Prof. Saleh Puradisastra, memberi padanan arti untuk kata ‘folklore’ dalam kata Sunda ‘kabinangkitan rakyat’.

Menurut hemat saya “Soyang”, permainan teatral anak-anak tani di desa-desa di Jawa ini, termasuk dalam apa yang disebut sebagai ‘kabinangkitan rakyat’ itu. Ia bukan sekedar kisah, adat, perilaku, kepercayaan rakyat yang dilestarikan secara lisan. Ia merupakan suatu ‘kabinangkitan’, dari mana rakyat bisa mencari dan menemukan acuan nilai-nilai hidup. Lanjut membaca

Surat Budaya 3

Hersri Setiawan

Sekali Lagi Tentang Turba — Gerakan Turun Ke Bawah

KATA “turun ke bawah”, atau yang lebih terkenal dalam istilah akronimnya “turba”, sekarang ini sudah melenceng terlampau jauh dari maknanya semula. Tidak lagi sebagaimana yang dikehendaki oleh para pencipta dan pengguna pertama istilah itu sendiri. Malah bukan sekedar “melenceng terlampau jauh” saja, tapi sudah sama sekali diganti, baik isi maupun semangatnya.

Itu terjadi sejak jaman Orde Baru. Orde Baru memang tidak hanya telah menjungkir balik sejarah bangsa saja, tetapi juga telah menjungkir balik dan mengubah makna pada sangat banyak kata-kata. Tanpa disadari, agaknya juga oleh para linguis kita, djunia kebahasaan kita telah rusak diobrak-abrik oleh perangai rezim militer Orde Baru. Banyak kata-kata, jika tidak diubah maknanya secara terang-terangan, dibikin kabur di balik kata-kata dari bahasa yang sudah lama mati, Jawa Kuno atau Jawa Baru Krama yang tidak populer, atau bahkan bahasa Sanskerta yang asing dan sudah menjadi ‘fosil’. Jalan lain lagi ialah dengan membuatnya dalam kata-kata singkatan atau akronim, model bahasa sandi dunia militer. Ketika itu sampai terbentuk satu-dua akronim sarkastis di tengah masyarakat yang terdengar saru (onfatsoenlijk) , seperti (maaf beribu maaf): ‘pentilkecakot’, penjaga tilpon kecamatan kota; ‘dancukpeli’, komandan pucuk peluru kendali … dsb. Lanjut membaca

Surat Budaya 2

Hersri Setiawan

Pengantar

Seperti saya sebut dalam Surat Budaya 1, bahwa masalah asas kerja Lekra 1-5-1 pernah saya singgung dalam tulisan saya yang lain, yaitu ‘Di Sela Intaian VII’. Di bawah ini saya turunkan tulisan tersebut, sebelum berlanjut dengan asas ‘politik adalah panglima’ dan asas ‘lima kombinasi’.

Silakan mencermati dan, seperti biasa, mengharapkan komentar.

Di Sela Intaian

catatan eks-tapol pulau buru

nomor foto 3196

HARI-HARI pertama dan kedua di atas kapal suasananya masih seperti orang berangkat pesiar. Banyak kawan, maksudku “kawan” dalam arti senasib bukan seideologi, keluar-masuk palka atau turun naik geladak. Beranjangsana ke kawan-kawan lama atau menikmati pemandangan lautan luas. Sampan-sampan nelayan tampak seperti sabut-sabut kelapa diayun-ayun gelombang. Ikan-ikan terbang timbul-tenggelam berlompatan, seperti adu lomba dengan alunan ombak yang bergulung-gulung. Kilatan halilintar di ujung pemandangan, bagai hujan anak panah dewa-dewa di surga yang menikami kaki langit. Lanjut membaca