Category: Artikel

Proses Pembentukan Bahasa Nasional Indonesia

Oleh: Hersri Setiawan

Bahasa Indonesia berasal dari bahasa Melayu yang berakar di pantai timur Sumatera. Karena sejarah perkembangan kehidupan ekonomi, bahasa Melayu kemudian mampu memperluas batas-batas wilayahnya sendiri dari batas-batas regional menjadi batas nasional, dan atas dasar itu bahasa Melayu diperkaya baik dalam logat atau dialek maupun dalam peristilahan, idiom dan sintaksis. Dalam perkembangannya kemudianbahasa Melayu sebagai lingua-franca tidak sekedar mendukung peranan ekonomis saja, tetapi juga peranan-peranan sosio-kultural dan politik, akhirnya tumbuh sebagai lingua-franca bagi seluruh nasion Indonesia. Lanjut membaca

Abad Revolusi I: Abad siapa? Milenium siapa?

Refleksi atas zaman kita

Aijaz Ahmad

Ada banyak ciri dari peradaban modern, yang postif maupun yang destruktif, yang khas abad ke-20, baik karena ciri-ciri tersebut tidak ada di masa lalu, atau yang lebih lazim, karena ciri-ciri ini telah berubah di luar yang kita bayangkan. Kebanyakan narasi mengedepankan persoalan ilmu pengetahuan dan teknologi, yang asalnya bukan abad ini tetapi telah mengubah kumulatif seluruh pola keberadaan manusia dengan cara-cara yang tak terbayangkan pada akhir abad sebelumnya. Misalnya dikemukakan bahwa pada abad ke-20 terjadi perkembangan besar kekuatan-kekuatan produksi, yang menghasilkan peningkatan besar kapasitas umat manusia untuk memproduksi kekayaan, yang lebih besar daripada seluruh abad dan milenia sebelumnya. Perubahan teknologi yang pesat ini jelas terlihat dalam produksi industri dan teknologi informasi; bahkan dalam pertanian perubahannya begitu dramatis sehingga kaum tani dalam pengertian lama, pertanian pemenuhan kebutuhan sendiri dan produksi untuk digunakan secara lokal dengan alat-alat bukan industri, sekarang di sebagian terbesar dunia sedang menghilang. Pada ujung lain pencapaian ini, aspek destruktif teknologi mendatangkan ancaman pada lingkungan alam, yang untuk pertama kali dalam sejarah umat manusia, sehingga tidak jelas apakah spesies, ataukah planet itu sendiri, bisa selamat dari kehancuran. Lanjut membaca

Tanggungjawab Moral dan Profesional dalam Pemanfaatan Teknologi Modern

Karlina Supelli

Pengantar: Makalah ini berbicara tentang teknologi dan tanggung jawab moral secara umum. Sikap etis di dalam penggunaan teknologi modern, dalam rangka menunjang pekerjaan dengan profesi tertentu, seperti Sekretaris, yang menjadi topik pertemuan kali ini, diturunkan dari prinsip dasar tanggung jawab moral tersebut; dan akan dibahas di dalam pembicaraan. Pertimbangan membuat makalah yang demikian ini adalah bahwa pemahaman mendasar akan teknologi sebagai sebuah sistem dan dampak serta implikasi etisnya, haruslah menjadi dasar pemahaman sebelum menentukan sikap sebagai etis pengguna. Lanjut membaca

Tangan-Tangan Dokter Moreau

Karlina Supelli

Tahun 1896 penulis H.G. Wells menerbitkan kisah imaginatif The Island of Doctor Moreau tentang pulau terpencil hunian binatang berbadan manusia, karya pisau bedah ilmuwan berambisi sinting. Dr. Moreau bukan hanya mencipta mahluk-mahluk mengerikan yang mematuhi hukumnya, tapi memuja dia sebagai Sang Pencipta: His is the Hand that makes, His is the Hand that wounds, His is the Hand that heals… Doctor Moreau (filmnya dibintangi Marlon Brando) adalah mimpi buruk horor ilmiah; bahkan pengunjung pulau itu pun asing terhadap dirinya sendiri dan kehilangan kepastian: mahluk apa ia sebenarnya? Lanjut membaca

Sebuah Perang untuk Keterpukauan

Karlina Supelli

Human Condition, ‘opus magnum’ Hannah Arendt (1958), dibuka dengan kalimat menggetarkan: “Pada tahun 1957, sebuah obyek kelahiran bumi, buatan manusia, diluncurkan ke alam semesta, tempat ia selama beberapa waktu mengitari bumi menurut hukum-hukum gravitasi yang mengayunkan dan mengedarkan juga benda-benda langit–matahari, bulan, dan bintang-bintang.” Peristiwa ini kemudian ia sebut sebagai, “tak dapat dibandingkan dengan apapun.” Lanjut membaca

Ringkasan Pemikiran: Orang Tua di dalam Pendidikan Anak-Anak

Karlina Supelli

Tema Seminar “Kiat Pendidikan Penyelamat Anak Bangsa” terasa sangat berat untuk saya, terutama ketika harus menjadi pembicara. Dalam kondisi negara yang demikian memprihatinkan karena kekerasan merebak di banyak tempat, karena masyarakat kehilangan kepercayaan terhadap institusi peradilan dan seringkali menjadi hakim yang sangat ganas, karena ekonomi tidak juga membaik dan kita terjebak di dalam lingkaran tekanan hubungan internasional, dan berbagai karena lainnya, kita memang segera menoleh kepada Pendidikan. Bisakah pendidikan menyelamatkan anak bangsa? Kata kiat mengandaikan ada taktik, untuk jangka pendek. Padahal pendidikan merupakan sebuah gerak jangka panjang. Maka kiat itu haruslah merupakan terjemahan dari sikap kita di dalam melihat pendidikan jangka panjang. Lanjut membaca