Category: 1965

Martin Aleida (kiri) dan S. Anantaguna

Antara Romo dan Sulastomo

Martin Aleida, sastrawan, tinggal di Jakarta

“Dengan minta maaf kita akan dibebaskan dari sisa kebencian dan dendam warisan pemerintahan Soeharto,” demikian seruan Franz Magnis-Suseno SJ dalam mendukung rencana Presiden SBY untuk meminta maaf kepada korban pasca-G30S (Kompas, 24 Maret 2012). “Permintaan maaf akan membebaskan hati kita juga.” Jiwa bergetar dibuatnya. Lanjut membaca

SURAT BUDAYA 12: Band Markas Komando (3)

Hersri Setiawan

[dari Di Sela Intaian]

kenangan tiga untuk basuki effendy

Demikianlah!

Band “Bantala Nada” Unit XIV Bantalareja itulah yang mendapat panggilan, tugas tampil di panggung hiburan ibukota Tefaat Buru, Namlea. Korve hiburan dalam rangka mengantar kepergian Letkol A.S. Rangkuti, sekaligus menyambut kedatangan Letkol Samsi M.S, sebagai penggantinya selaku Komandan Tefaat. Mengapa band dari Unit UIV Bantalareja? Karena di unit-unit lain kegiatan musik mereka, jika pun sudah ada, belum melembaga seperti halnya di Unit XIV Bantalareja. Lanjut membaca

Surat Budaya 11: Band Markas Komando (2)

Hersri Setiawan

[dari Di Sela Intaian]

Kenangan dua untuk basuki effendy

Bung Basef,

Mari kita teruskan cerita tentang kenangan yang lalu.

Ketika itu diumumkan keputusan Dan Unit memecat Basuki Effendy selaku koordinator atau pengatur kerja Unit XIV Bantalareja [catatan 1]. Sejak itu juga bagi Unit XIV Bantalareja, perbendaharaan lagu terlarang oleh Orde Baru bertambah dengan dua lagu lagi. Sesudah semua “lagu lekra” dan “lagu p-k-i” serta “Genjer-Genjer” sejak akhir 1965 dinyatakan terlarang, sekarang ditambah dengan “Larilah, Hai Kudaku!”, sebuah lagu negeri jiran Malaya yang pernah sangat terkenal pada masanya, dan “Come Back To Sorrento”, lagu barat populer yang juga pernah sangat populer di Indonesia awal 1950-an. Jauh sebelum peristiwa G30S terjadi. Tidak ada hubungan antara Sorrento, sebuah kota di Italia dengan PKI di Indonesia; demikian pula tidak ada hubungan antara “kuda binal” penyanyi tampan S. Effendy dengan para tapol “G30S PKI”!

*** Lanjut membaca

Surat Budaya 10: Band Markas Komando

Hersri Setiawan

[dari “Catatan Di Sela Intaian”]

Kenangan untuk Basuki Effendy 

Almarhum Basuki Effendy, sutradara dan aktor film; salah satu filmnya yang digarap bersama alm. Kotot Soekardi, “Si Pincang”, mendapat penghargaan internasional dalam festival film di Praha; anggota dewan harian pimpinan pusat Lekra; terakhir tinggal di Jakarta Selatan, sampai tutup-usia (2007).

Oei Hay Djoen dan Basuki Effendy, ca. 1960

Lanjut membaca

Senja Pertama di Bantalareja[1]

Senja Pertama di Unit XIV Bantalareja

Hersri Setiawan

Senja Pertama Di Bantalareja

[dari di sela intaian]

kenangan pada Mbakyuku Mia Bustam

untuk Tedjobayu dan adik-adik

Pintu gerbang unit kumasuki dengan hati dingin-dingin saja. Ia terbuka lebar. Gemboknya yang besar tergantung bisu. Lurus-lurus di seberang sana, pintu gerbang keluar. Tertutup. Rantai dan gemboknya kelihatan terpasang. Alang-alang setinggi lebih dari tubuhku tumbuh lebat di depan jajaran barak-barak. Lima bubung di sisi kiri dan lima lagi di sisi kanan. Semuanya beratap welit dan berdinding plupuh. Di belakang gerbang keluar itu hutan belukar. Juga di belakang barak-barak. Hanya di depan, di sisi wisma dan mes, hamparan sabana alang-alang dan kusu-kusu. Krinyu, kayuputih, laban dan gempol. Lanjut membaca

Ziarah Ke Pulau Buru

Eks-Tapol Meninjau Kamp Tawanan Suharto (sebuah reportase)

Willy van Rooijen

‘Mengapa aku gelisah? Aku toh sudah pernah di ambang maut?’ Hersri Setiawan, penyair berasal Jawa, bertahun-tahun hidup sebagai tapol di Buru di Kepulauan Maluku. Dua puluh tahun sesudah bebas, sekarang tinggal di Belanda, ia kembali ke Buru. ‘Aku ingin melihat lahan sawah yang aku ikut mencetaknya. Ziarah ke makam kawanku yang mencoba melarikan diri dari kamp.’ Willy van Rooijen mengikuti perjalanan ziarah itu. Lanjut membaca

Peristiwa G30S 1965 dalam Tinjauan Ulang

Wijanto SH

Sarasehan Leuven Belgia

PERISTIWA G30S 1965 DALAM TINJAUAN ULANG

Pada hari Sabtu 23 September 2000, generasi muda Indonesia di Leuven menyelenggarakan sarasehan dalam rangka Forum Diskusi Sejarah Indonesia. Tema pokok diskusi ini «Peristiwa September 1965 dalam Tinjauan Ulang». Generasi muda Indonesia pasca 1965 telah dipaksa menelan sejarah tanpa pengolahan ilmiah, dan telah disalah gunakan untuk melegitimasi rezim Orba. Mereka berkeinginan untuk mawas diri, mengadakan tinjauan ulang atas peristiwa 1965, yang mereka rasakan sangat penting dan berguna. Lanjut membaca

Pipit Rochijat tentang Pembunuhan Massal ’65 (1)

Date: Fri, 18 Oct 1996 11:00:00 -0400 (EDT)
To: apakabar@clark.net
From: ba16@cornell.edu (Ben Abel)
Subject: IN:Pipit R ttg pembunuhan 1965 (1/7)

PIPIT ROCHIJAT TENTANG PEMBUNUHAN MASSAL-65

T: Bung Pipit, anda menulis kesaksian pribadi ketika peristiwa pembunuhan
massal terjadi di Kediri. Tulisan anda itu, “Saya PKI Atau Bukan PKI?!”
dimuat dalam majalah “Gotong Royong,” Maret 1984, yang diterbitkan oleh PPI
Berlin, Jerman Barat. Dan kemudian diterjemahkan dalam Bahasa Inggris lalu
dimuat di majalah “Indonesia” terbitan Cornell. Kami ingin tahu lebih dalam
tentang pengalaman Bung itu. Lanjut membaca