Category: Tulisan

Proses Pembentukan Bahasa Nasional Indonesia

Oleh: Hersri Setiawan

Bahasa Indonesia berasal dari bahasa Melayu yang berakar di pantai timur Sumatera. Karena sejarah perkembangan kehidupan ekonomi, bahasa Melayu kemudian mampu memperluas batas-batas wilayahnya sendiri dari batas-batas regional menjadi batas nasional, dan atas dasar itu bahasa Melayu diperkaya baik dalam logat atau dialek maupun dalam peristilahan, idiom dan sintaksis. Dalam perkembangannya kemudianbahasa Melayu sebagai lingua-franca tidak sekedar mendukung peranan ekonomis saja, tetapi juga peranan-peranan sosio-kultural dan politik, akhirnya tumbuh sebagai lingua-franca bagi seluruh nasion Indonesia. Lanjut membaca

S. M. Kartosuwiryo, Orang Seiring Bertukar jalan

Oleh: Hersri S dan Joebaar Ajoeb

Marijan. Begitu ia dipanggil ketika masih bocah. Tetapi ketika telah dewasa, di antara umur 40-60 tahun, Marijan lebih dikenal dengan nama Kartosuwiryo. Plus berbagai nama julukan. Ada kalanya, pada masa antara 1950 hingga 1962, koran-koran Indonesia menjulukinya dengan sebutan-sebutan: Gembong Darul Islam (DI), Kepala Gerombolan Tentara Islam Indonesia (TII). Di samping itu ia pun sering disebut sebagai Imam atau Presiden Negara Islam Indonesia (NII), sebuah “negara” yang juga berbentuk republik, Al Jumhuriah. Lanjut membaca

Martin Aleida (kiri) dan S. Anantaguna

Antara Romo dan Sulastomo

Martin Aleida, sastrawan, tinggal di Jakarta

“Dengan minta maaf kita akan dibebaskan dari sisa kebencian dan dendam warisan pemerintahan Soeharto,” demikian seruan Franz Magnis-Suseno SJ dalam mendukung rencana Presiden SBY untuk meminta maaf kepada korban pasca-G30S (Kompas, 24 Maret 2012). “Permintaan maaf akan membebaskan hati kita juga.” Jiwa bergetar dibuatnya. Lanjut membaca

Debat di Kamsing

Hersri Setiawan

Seni dan Hiburan Racun?

Perbenturan pendapat dalam menyikapi kehidupan “kesenian” (sebenarnya lebih tepat harus disebut saja “hiburan”[1]) terjadi ketika aku menjadi koordinator atau pengurus kerja di Unit XIV Bantalareja. Itu berarti dalam tahun 1972. Ketika itu kehidupan panggung hiburan di unit-unit Tefaat Buru memang sudah terlalu marak. Barangkali di semua unit, pada saat itu, sudah berdiri gedung kesenian yang tentu saja tidak pernah sepi. Walaupun keramaian itu pada umumnya berlangsung satu kali dalam satu-dua bulan. Tapi bunyi petikan gitar atau gesekan biola di barak sana-sini, dan bunyi saron atau gambang di panggung kesenian bisa terdengar kapan saja pada sore dan petang hari menjelang dan setelah salat isya. Lanjut membaca

Perbanditan dalam Sejarah Jakarta

Resensi

• Judul: Banditry in West Java, 1869-1942 • Penulis: Margreet van Till • Penerjemah: David Mckay dan Beverley Jackson • Penerbit: NUS Press • Cetakan: 2011 • Tebal: x + 282 halaman • ISBN: 978-9971-69-502-6

M. Fauzi

Hingga kini, perbanditan dalam sejarah Indonesia belum banyak menjadi fokus kajian para sejarawan negeri ini. Tema ini seperti terpinggirkan atau berada di luar arus besar historiografi Indonesia.

Buku karya Margreet van Till, Banditry in West Java, 1869-1942, dibuka dengan berita dalam Bataviaasch Niewsblad edisi 5 November 1907 tentang perampokan di suatu rumah di sekitar Kampung Melayu, Jakarta Timur, milik seorang warga Tionghoa pada pukul 9 malam. Berita perampokan tersebut tentu mencemaskan sekaligus menakutkan bagi para pembaca koran dan juga warga sekitar tempat kejadian. Dari sinilah dirangkai kisah tentang perbanditan di Jawa Barat dan Batavia khususnya sepanjang tahun 1869 hingga 1942.

Penulis buku ini menyebut para perampok itu sebagai bandit yang telah mengusik ketenangan warga sekaligus melawan pemerintah kolonial. Kasus-kasus perampokan di Batavia yang dimuat dalam buku ini banyak terjadi di lokasi ommelanden atau wilayah yang berada di luar tembok kota. Ekspansi kapital ke Batavia sejak abad ke-18 menjadi salah satu faktor tumbuhnya kriminalitas di kota tersebut dan sekitarnya. Pusat kekuasaan kolonial Belanda ini, selain menjadi daya tarik pemodal, juga menarik perhatian para bandit. Lanjut membaca

SURAT BUDAYA 12: Band Markas Komando (3)

Hersri Setiawan

[dari Di Sela Intaian]

kenangan tiga untuk basuki effendy

Demikianlah!

Band “Bantala Nada” Unit XIV Bantalareja itulah yang mendapat panggilan, tugas tampil di panggung hiburan ibukota Tefaat Buru, Namlea. Korve hiburan dalam rangka mengantar kepergian Letkol A.S. Rangkuti, sekaligus menyambut kedatangan Letkol Samsi M.S, sebagai penggantinya selaku Komandan Tefaat. Mengapa band dari Unit UIV Bantalareja? Karena di unit-unit lain kegiatan musik mereka, jika pun sudah ada, belum melembaga seperti halnya di Unit XIV Bantalareja. Lanjut membaca

Surat Budaya 11: Band Markas Komando (2)

Hersri Setiawan

[dari Di Sela Intaian]

Kenangan dua untuk basuki effendy

Bung Basef,

Mari kita teruskan cerita tentang kenangan yang lalu.

Ketika itu diumumkan keputusan Dan Unit memecat Basuki Effendy selaku koordinator atau pengatur kerja Unit XIV Bantalareja [catatan 1]. Sejak itu juga bagi Unit XIV Bantalareja, perbendaharaan lagu terlarang oleh Orde Baru bertambah dengan dua lagu lagi. Sesudah semua “lagu lekra” dan “lagu p-k-i” serta “Genjer-Genjer” sejak akhir 1965 dinyatakan terlarang, sekarang ditambah dengan “Larilah, Hai Kudaku!”, sebuah lagu negeri jiran Malaya yang pernah sangat terkenal pada masanya, dan “Come Back To Sorrento”, lagu barat populer yang juga pernah sangat populer di Indonesia awal 1950-an. Jauh sebelum peristiwa G30S terjadi. Tidak ada hubungan antara Sorrento, sebuah kota di Italia dengan PKI di Indonesia; demikian pula tidak ada hubungan antara “kuda binal” penyanyi tampan S. Effendy dengan para tapol “G30S PKI”!

*** Lanjut membaca

Surat Budaya 10: Band Markas Komando

Hersri Setiawan

[dari “Catatan Di Sela Intaian”]

Kenangan untuk Basuki Effendy 

Almarhum Basuki Effendy, sutradara dan aktor film; salah satu filmnya yang digarap bersama alm. Kotot Soekardi, “Si Pincang”, mendapat penghargaan internasional dalam festival film di Praha; anggota dewan harian pimpinan pusat Lekra; terakhir tinggal di Jakarta Selatan, sampai tutup-usia (2007).

Oei Hay Djoen dan Basuki Effendy, ca. 1960

Lanjut membaca