S.W. Kuncahyo (1928-1999)

Hersri Setiawan

S.W. Kuncahyo (1928-1999)

sehelai surat tentang perginya seorang kawan

KEMARIN menjelang senja seorang kawan menelponku: kabar duka. Bung Kuncahyo meninggal tanggal 9 Juli pagi hari di Malang Jawa Timur, oleh sakit hati parah (lever akut) yang telah lama dideritanya. Aku tidak pernah mendengar berita ia sakit. Apalagi sakit lever akut! Sejak aku kenal dekat dengannya, penyakit Mas Kun – begitu aku dulu biasanya menyapanya – yang menahun dideritanya ialah penyakit asma. Nama Sri Wisnukuncahyo sudah aku kenal jauh sebelum kukenali pribadinya dalam awal 60-an. Ia diperkenalkan sebagai sastrawan oleh Ibu Nursyamsu, guru sastraku ketika di SMP, sebagai kawan pengarang seangkatannya – angkatan sesudah perang atau kemudian dinamai “Angkatan 45″.

Supii Wishnukuntjahja penyair Madura, kata Bu Nur suatu saat di depan klas, seakan-akan “kedaerahan” itu perlu ditekankan. Entah mengapa, barangkali karena karena ketika tahun 40-an itu proses pembangunan bangsa memang sedang mulai, dan lagi Mas Kun juga masih banyak menulis dalam Jawa selain Indonesia. Supii Wishnukuntjahja, selanjutnya menjadi Sri Wisnukuntjahja, dan kemudian menjadi S.W. Kuntjahja (ejaan sekarang “Kuncahya”: c untuk tj; y untuk j). Ketika aku mengenalnya dari dekat pada awal 60-an, ia tidak lagi tampil sekedar sebagai “penyair sesudah perang”. Angkatan penyair yang kritis, skeptis dan sinis, serta bertendens “humanisme” tanpa juntrung. Tapi ia tampil sebagai Bung Kuncahyo, tokoh penyair progresif yang sangat subur pena dan semangat. Kemudian ternyata, dia juga seorang tokoh pimpinan gerakan buruh Indonesia (SOBSI), dan akhirnya juga sebagai sesama tapol G30-PKI yang rajin belajar – belajar dari dan pada apa saja -, berwatak berani, dan teguh pada pendirian. Kerajinannya belajar aku kenal ketika kami sama-sama dalam satu rombongan delegasi nyanyi dan tari (1962) melawat ke berbagai negeri Asia, keberanian dan keteguhannya kusaksikan ketika tahun-tahun “pesakitan” di RTC Salemba – paroh kedua 60-an sampai akhir 70-an.

Pada tahun 67 untuk kedua kalinya ia ditangkap Operasi “Kalong” di bawah pimpinan Kapten Suroso. Penangkapan pertama awal 66 di salah satu sudut kota Jakarta, penangkapan kedua terjadi sesudah ia mendekam di dalam sel Blok “N” RTC Salemba. Entah atas petunjuk cecunguk siapa, konon Komandan Operasi “Kalong” Kapten Suroso berikut anak-buah datang ke RTC Salemba. Langsung mereka menuju ke sel Bung Kuncahyo, menggeledah sel, dan ditemukannya bendera Merah serta berbagai tulisan tentang teori dan organisasi revolusioner. Ia dituduh, bersama satu dua kawan lain, membangun organisasi Partai di penjara.

Pada tahun akhir 70-an, ketika aku sudah dan masih di pulau purgatorio Buru, kudengar kabar Bung Kun melarikan diri dari RTC Salemba. Melalui urung-urung wc di Blok E. Blok tahanan militer kriminil yang sangat kukenal, karena pernah berbulan-bulan juga aku menghuninya (1970). Peristiwa Kuncahyo dkk melarikan diri terjadi pada suatu malam gelap pekat, ketika ibukota Jakarta diguyur hujan lebat, dengan terlebih dulu menggergaji jeruji-jeruji besi yang sebesar empu jari itu.

SUPII Wishnukuntjahja lahir 1928 di Kesamben Blitar Jawa Timur. Berpendidikan SGL di Blitar (Sekolah Guru Laki-Laki; di samping itu ada SGP, Sekolah Guru Perempuan), lembaga pendidikan guru 4 tahun sesudah SD untuk menyiapkan tenaga pengajar di sekolah-sekolah dasar. Ia menulis sejak awal umur Republik, terutama puisi, antara lain di majalah-majalah “Berontak” (Magelang), “Bakti” (Mojokerto), “Sastrawan” (Malang), juga “Pantja Raja” dan “Mimbar Indonesia”. Dalam “Gema Tanah Air”, H.B. Jassin, cetakan ke-3 (1954), Supii Wishnukuntjahja tampil dengan tiga sajak “Perbuatanku”, “Tjongkak”, dan “Dalam Persimpangan” (233-235). Aku tidak tahu, apakah H.B. Jassin tahu barang sedikit riwayat hidup Bung Kuncahyo. Andaikata begitu, bisa dipastikan H.B. Jassin tentu tidak akan menampilkannya lagi di dalam “Gema Tanah Air” cetakan terakhir. Ia seorang “Paus Sastra Indonesia” yang gagah memang, ketika membela Ki Panji Kusmin di depan pengadilan. Tapi Jassin sama sekali tak berjubah putih, sekali ia berhadapan dengan “kaum Manipolis”.

Tiga hari sebelum kepergiannya, aneh sekali, aku merasa didorong keinginan untuk menyanyi dan mencatat kembali lagu dan syair “Pujaan Kepada Partai” – sebuah himne untuk PKI. Seperti banyak kawan tentu tahu, lagu itu disusun oleh Bung Subranta K. Atmadja (meninggal di Jakarta 12 November 1982; tentang almarhum dan karyanya pernah aku tulis di “Kompas Minggu”, Desember 1982), dan syair oleh Slamet. Slamet itu S.W. Kuncahyo inilah! Dengan dibantu ingatan dua orang kawan, syair himne itu berhasil kucatat kembali.

Untuk mengenang S.W. Kuncahyo, di bawah ini kuturunkan syair lagu “Pujaan Kepada Partai”:

Kaucabut segala padaku

cemar dan noda

duka dan derita

Kauberi segala padaku

kasih dan cinta

bintang dan surya

Partaiku Partaiku

segenap hati bagimu

Partaiku Partaiku

kuwarisi api juangmu

PKI PKI

segenap hati bagimu

PKI PKI

kuteruskan jejak juangmu!

Bung Kun,

Orang boleh setuju atau tidak setuju pada sikap pendirianmu. Juga orang boleh senang atau tidak senang pada cita-cita dan organisasi yang engkau abdi. Tapi bagiku, Bung Kun, engkau telah mencurahkan hidupmu untuk apa yang terbaik bagi hati nuranimu. Untuk itu aku menundukkan hatiku bagimu.

Bung Kun,

Selamat Jalan!

Kockengen 11 juli 1999

About these ads

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s