Kosmologi: Mengenali Alam Semesta

KOSMOLOGI: MENGENALI ALAM SEMESTA

Karlina Supelli

Pengantar

Menikmati pemandangan alam merupakan salah satu kegiatan santai yang dapat mengendurkan ketegangan akibat tugas-tugas sekolah yang seringkali terasa demikian berat. Tidak jarang kesantaian itu berkembang menjadi kesenangan rutin yang lalu melahirkan kerinduan yang luar biasa pada alam, pada keteraturan yang tiba-tiba saja diikuti dengan amukan dan keporakporandaan yang menghilangkan monotoninya.

Keindahan visual yang begitu menawan menjadi kian lengkap apabila kita mampu mengelupas demi lapis tampilan alam semesta untuk sampai pada mekanisme mendasar yang melandasinya. Sarang burung di pucuk pohon bukan sekedar tempat mengeram telur jika kita mengerti bagaimana punjung jantan selalu saja memilih jerami terindah diselingi warna menawan untuk memikat betinanya. Padang rumput bukan sekedar hamparan permadani lembut yang nyaman jika kita mengerti bahwa kehijauannya memerlukan terlebih dahulu muka bumi yang bergolak selama berjuta-juta tahun. Ribuan bintang di langit malam bukan lagi kerlap-kerlip cantik jika kita mengerti bagaimana selama bermilyar-milyar tahun seonggok awan raksasa tanpa bentuk berputar dahsyat, memilin, dan mengerut, untuk menghadirkan gemerlap malam yang tak terjamah itu. Padang itu, bintang-bintang itu, menjadi saksi bahwa alam mampu menyelaraskan kesemrawutan.

Seringkali saya menerima pertanyaan, kenapa belajar kosmologi yang begitu jauh dari kehidupan manusia yang masih menuntut amat banyak perhatian? Ilmu ini seperti tidak berkaitan langsung dengan derap langkah manusia di Bumi yang sibuk menapak di planet kecil ini demi mengolah, membangun, dan menguasai alam. Kosmolog, dan para astronom, mengembarakan pikiran ke wilayah senyap di antara bintang-bintang. Adakah gunanya?

Mungkin kita bisa mendengar apa yang disampaikan seorang astrofisikawan kenamaan William Mc.Crea, bahwa kosmologi adalah sesuatu yang datang pada setiap orang, bukan sesuatu yang dapat dipilih untuk dipelajari. Mengapa? Kosmologi adalah seluruh sejarah upaya manusia untuk memahami semesta dan memahami kehadiran dirinya yang selalu bertanya, ‘mengapa aku ada di sini?’, ‘haruskah aku hadir?’ , ‘mengapa aku dapat hadir dalam alam semesta ini?’. Pertanyaan-pertanyaan seperti ini sudah menggema sejak manusia tegak berdiri di muka Bumi dan menengadah ke langit.

Apakah kosmologi?

Istilah kosmologi berasal dari bahasa Yunani kosmos yang dipakai oleh Pythagoras (580-500 SM) untuk melukiskan keteraturan dan harmoni pergerakan benda-benda langit. Istilah ini dipakai lagi dalam pembagian filsafat Christian Wolff (1679-1754).

Kosmologi adalah pengetahuan tentang alam semesta. Dalam penggunaan modern oleh para ilmuwan, kosmologi adalah cabang ilmu pengetahuan yang berupaya memahami struktur ruang-waktu dan komposisi alam semesta skala besar dengan menggunakan metode ilmu pengetahuan alam. Ini berarti kosmologi memanfaatkan pengamatan rinci untuk memperoleh data dan memanfaatkan teori-teori fisika untuk menafsirkan data tersebut, serta mempergunakan penalaran matematika atau penalaran logika lainnya yang terkandung dalam teori-teori tersebut untuk memperoleh pengetahuan lengkap mengenai alam semesta fisik.

Kosmologi bukan astronomi yang membagi-bagi seluruh alam semesta menjadi galaksi, bintang, planet, bulan, lalu menelaahnya satu demi satu. Kosmologi memadukan semua cabang dan ranting pohon ilmu pengetahuan untuk memperoleh gambaran yang menyeluruh mengenai alam semesta. Kosmologi menelaah ruang dan waktu, menyelidiki asal-usul semua materi pengisi alam, mempelajari peristiwa kosmis penting, termasuk asal mula kehidupan dan kemungkinan perkembangan kecerdasan.

Masalah yang dihadapi para kosmolog modern adalah mempersatukan sifat-sifat alam semesta teramati untuk memperoleh model-model alam semesta yang akan mendefinisikan struktur dan evolusinya. Model alam semesta menjadi sarana yang dibangun manusia untuk memperoleh gambaran mengenai alam semesta yang demikian luas. Model ini dibentuk dengan bertumpu pada data empiris dan teori-teori fisika. Model alam semesta pun senantiasa diujikan. Hasil-hasil amatan baru atau teori-teori baru akan mengubah model alam semesta dari waktu ke waktu.

Apakah model yang dibangun para kosmolog merupakan cermin Alam Semesta? Kita mungkin tidak pernah dapat memastikannya. Dalam membuat model alam semesta, para kosmolog ibarat seorang pembuat topeng yang harus memasangkan topeng buatannya pada seraut wajah tak dikenal, Alam Semesta. Ia hanya mempunyai satu Alam Semesta, dan ia berada di dalamnya. Ia tidak pernah mengetahui seperti apakah Alam Semesta sesungguhnya. Kosmolog bukan membuat potret alam semesta, ia hanya membuat analoginya. Upaya ini tidak sederhana, namun terbukti berhasil melahirkan teori-teori tentang asal usul, struktur dan evolusi alam semesta yangdari waktu ke waktu menambah pemahaman kita mengenai ruang maha besar yang kita huni ini.

Dari Kosmos Magis ke Mitologi

Kosmologi modern didukung oleh piranti pengamatan astronomis dan sarana penghitung yang amat canggih, sehingga bahkan wilayah-wilayah alam semesta yang luar biasa jauh pun dapat dimasukkan ke dalam jangkauan pengetahuannya. Namun sebetulnya, selama ribuan tahun sebelumnya, manusia berjuang membuat model alam semestanya dengan hanya bertumpu pada mata telanjang dan perhitungan sederhana.

Model alam semesta paling dini dalam sejarah kosmologi adalah kosmos magis yang dipenuhi oleh emosi gaib. Kosmos ini melahirkan kisah-kisah menakutkan yang sering kita jumpai dalam dongeng masa kecil. Tidak jelas kapan era ini berawal, tetapi yang jelas masa ini berakhir ketika manusia mulai membangun dan menghuni kota-kota sekitar 10.000 tahun lalu.

Pada era ini, kekuatan magis yang bergentayangan dari pohon ke pohon, meloncat dari satu gumpalan awan ke gumpalan lainnya, yang mendebur dari lautan ke daratan, atau di mana pun mereka bersemayam, menjelma ke dalam tubuh dewa dan dewi penguasa kosmos. Inilah era mitologi. Mitologi menjadi kosmologi prailmu, karena mitologi adalah upaya tertua manusia untuk mulai menjelaskan kosmos dengan cara yang sistematik.

Mitologi tertua mengenai alam semesta yang dapat ditelusuri sejauh ini, berasal dari Sumeria (sekarang Irak), Babilonia, Yunani Cina, Suku Maya dan India. Isi mitologi amat beragam, tetapi umumnya dapat ditarik sebuah kesimpulan sederhana bahwa semua model itu bersifat antroposentrik, yaitu menjadikan manusia sebagai pusat segala kegiatan di dalam alam semesta. Para dewa dan dewi yang sedemikian kuasanya pun hanya disibukkan oleh urusan manusia dari waktu ke waktu.

Awal untuk sebuah Kosmologi Modern

Mitologi merupakan upaya menjelaskan gejala yang tampil di alam dengan cara mencari penyebabnya di luar alam, yaitu kehendak para dewa dan dewi. Era mitologi mulai berakhir ketika manusia tidak lagi mencari penyebab gejala di luar alam, melainkan dari dalam alam sendiri. Para filsuf Yunani mulai memikirkan air, atau udara, atau api, sebagai penyebab segala sesuatu di dalam. Inilah tahap filsafat alam yang dimulai kira-kira abad ke-6 SM.

Sekalipun demikian, gagasan kosmos antroposentrik tetap melekat dalam pemikiran Yunani kuno dan terwujudkan dalam gagasan kosmos geosentrik. Bermacam-macam model alam semesta muncul dan tenggelam sejak itu, tetapi ada satu kosmos geosentrik yang diyakini kebenarannya selama lebih dari 14 abad. Kosmos itu adalah kosmos geosentrik Ptolomaues yang diajukan tahun 140. Ptolomaues yakin bahwa bukan saja Bumi itu adalah pusat tata surya, tetapi pusat gerak seluruh alam semesta. Dengan bantuan aturan-aturan geometri yang rumit, ia mencoba menjelaskan gerak benda-benda langit yang tampak sepanjang tahun. Kosmos geosentrik ini terasa nyaman untuk manusia, karena bukan saja berarti bahwa ia tetap menjadi pusat kegiatan kosmos, tetapi juga bahwa ia adalah mahluk yang pantas mendapat perhatian khusus.

Penggeseran posisi manusia dari tempat yang dipertahankan selama hampir sepanjang sejarah pemikiran manusia itu berlangsung melalui konsep heliosentris yang diajukan Copernicus. Copernicus mengatakan bahwa gerak benda-benda langit sepanjang tahun yang seakan-akan mengelilingi Bumi sesungguhnya adalah gerak semu akibat peredaran Bumi mengelilingi Matahari. Semua planet dan bulan-bulannya mengedari Matahari dalam suatu tata surya; di luar planet yang terjauh terdapat selubung bintang-bintang yang semuanya berpusat di Matahari. Seluruh semesta berpusat di Matahari.

Gagasan radikal Copernicus yang menggeser posisi manusia ini tidak mudah untuk diterima; namun ketika diterima dan dilengkapi dengan hukum gerak planet dari Kepler, tafsiran matematis atas alam oleh Galileo, serta pemahaman mengenai gaya gravitasi oleh Newton, pemikiran Copernicus menjadi sebuah revolusi pemikiran besar yang melandasi perombakan hubungan manusia dengan alam. Keseluruhannya membentuk suatu paduan pemahaman mengenai hukum-hukum mekanika yang bekerja di seluruh alam semesta. Alam semesta pun terpahami melalui hukum-hukum mekanika yang berlaku sama di wilayah mana pun di dalamnya. Konsepsi alam yang terbelah antara wilayah duniawi yang fana dan wilayah langit eterial yang kekal serta tak terjangkau oleh hukum-hukum alam, runtuh bersama hukum-hukum yang dapat dipelajari itu.

Dari Kosmos Statik ke Kosmos Dinamik

Newton memperkenalkan konsep gaya ke dalam alam-semestanya; gaya itu adalah gaya gravitasi yang bertindak sebagai pengatur gerak dalam alam semesta. Sekalipun bersifat menarik, di dalam kosmos menurut konsepsi Newton ini terjadi keseimbangan yang luar biasa sehingga alam semesta tetap statik dan tidak bergerak mengerut oleh gravitasi. Penyebabnya adalah alam semesta ini tidak mempunyai pusat dan terentang takhingga sehingga gaya-gaya yang lahir dari setiap obyek di dalamnya saling meniadakan.

Kosmos Newton dengan gravitasi universalnya yang berlaku di mana-mana ini bertahan lebih dari dua setengah abad. Perubahan mendasar di dalam gagasan mengenai alam semesta muncul bersama teori kenisbian khusus dan umum yang dilahirkan Einstein pada permulaan abad ke-20. Teori ini melandasi hampir seluruh upaya pemahaman mengenai alam semesta skala besar di tempat-tempat teori Newton tidak bekerja lagi dengan cemat atau bahkan mengalami kegagalan.

Einstein memperkenalkan kosmologi statik, yaitu sebuah alam semesta yang tidak bergerak ke manapun. Berbeda dengan kosmos Newton, Kosmos Einstein ini berhingga namun tak berbatas dan mengandung di dalamnya sebuah gaya misterius yang ia beri lambang lambda (8). Mengapa ia memperkenalkan gaya ini?

Di atas kertas, kosmos Einstein sebetulnya bergerak memuai. Namun Einstein menolak temuannya sendiri itu karena tidak seorang pun pada masa itu pernah memperkenalkan gagasan kosmos yang dinamik. Untuk menghentikan gerak itulah ia menambahkan 8 (sesuatu yang kemudian ia sesali sebagai ‘kesalahan bodoh terbesar’ yang pernah ia lakukan).

Selama perkembangan model-model alam semesta itu pula, para astronom menemukan bahwa kosmos dipenuhi oleh berbagai ragam bentuk galaksi. Pengamatan yang dilakukan sendiri-sendiri oleh Edwin Hubble dan Vesto Slipher menunjukkan bahwa garis-garis pada spekra galaksi-galaksi itu ternyata cenderung bergeser ke panjang gelombang yang lebih merah daripada seharusnya. Gejala inilah yang kemudian ditafsirkan sebagai petunjuk bahwa alam semesta ruang dinamik yang bergerak dari waktu ke waktu, galaksi-galaksi saling menjauh. Pada tahun 1929, Hubble menghitung bahwa kian jauh galaksi kian tinggi laju menjauh galaksi tersebut.

Tafsiran ini melahirkan perdebatan yang cukup panjang. Bayangkan bahwa sebuah galaksi berjarak sekitar 10 milyar tahun cahaya akan menjauh dengan laju 200.000 km/detik atau 0,6 kali laju cahaya. Laju setinggi itu untuk benda semasif galaksi amat sukar untuk dijelaskan melalui model-model alam semesta yang ada.

Persoalan ini menjadi jelas ketika seorang paderi dan kosmolog Belgia LemaitrL (1931) mengajukan model kosmos yang mengembang. Menurut LemaitrL gerak galaksi adalah bukti bahwa alam semesta memuai. Pemuaian itu demikian rupa sehingga ruang-waktu terus membesar tetapi tanpa menyebabkan galaksi-galaksi sendiri ikut membesar; hanya jarak di antaranya kian membesar.

Pertanyaannya, darimana asal gerak memuai tersebut? Mengapa alam semesta membesar terus menerus?

Model Alam Semesta Ledakan Dahsyat

Jika alam semesta sekarang sedang terus menerus memuai, tentu ada suatu waktu di masa lampau ketika ukurannya jauh lebih kecil daripada sekarang. LemaitrL sendiri mengajukan modelnya yang menyatakan bahwa pada awal alam semesta, ada sebuah peristiwa mirip ledakan ‘atom’ amat dahsyat yang mengawali alam semesta. Ledakan itulah yang menyebabkan ruang-waktu memuai dan kini terejawantahkan dalam gerak saling menjauh galaksi.

Pada tahun 1940-an George Gamow dan rekan-rekannya melahirkan konsep Ledakan Dahsyat Panas (The Hot Big Bang Model). Konsep ini merupakan kelanjutan dari konsep LemaitrL. Gamow menyatakan bahwa masa dini kosmos ditandai dengan suhu dan rapatan yang amat tinggi, namun kemudian suhu dan rapatan itu menurun seiring dengan gerak muaian alam semesta. Bagaimanapun, sisa radiasi yang amat panas itu tidak lenyap begitu saja. Gamow memprakirakan bahwa sisa radiasi masa muda alam semesta itu dapat dideteksi pada kosmos masa kini dalam bentuk radiasi bersuhu amat rendah pada riak gelombang mikro.

Pemuaian dan pendinginan kosmos menyebabkan zarah subatom mulai terbentuk, untuk kemudian membentuk atom-atom. Atom-atom inilah yang menjadi cikal bakal seluruh penghuni kosmos, termasuk manusia.

Gagasan Gamow pada saat diajukan belum mempunyai dukungan empiris. Sementara itu muncul Teori Keadaan Tetap yang membantah Model Ledakan Dahsyat. Bondi, pengaju teori itu, menyatakan bahwa alam semesta tidak mempunyai awal dan akhir. Kosmos selalu ada dan akan selalu ada; di dalamnya senantiasa terbentuk materi baru untuk mengganti materi lama yang musnah. Dengan demikian alam semesta senantiasa tetap, tidak berubah dalam skala besar sekalipun mengalami perubahan pada skala kecilnya. Untuk ilmu pengetahuan, konsep yang diajukan Bondi ini amat menarik karena tidak menghadapkan para ilmuwan pada pertanyaan mengenai asal mula alam semesta yang tidak terjelaskan.

Pada tahun 1965 Arno Penzias dan Robert Wilson dari Laboratorium Telefon Bell secara tidak sengaja mendeteksi sinyal aneh dari langit. Sinyal ini, yang ditangkap pada riak gelombang mikro dan mempunyai suhu 3 K, ternyata bukan berasal dari sebuah obyek langit, namun dari seluruh bagian kosmos. Sinyal itu ternyata tersebar secara merata dan dapat dideteksi ke arah manapun antena radio pendeteksi di arahkan. Radiasi ini lalu disebut sebagai radiasi latar belakang kosmos beriak gelombang mikro.

Telaah oleh Robert Dicke dan rekan-rekannya dari Universitas Princeton menunjukkan bahwa radiasi itu tidak lain adalah radiasi sisa masa muda kosmos seperti yang diharapkan Gamow. Radiasi yang menyebar secara serbasama dan isotropik itu sejauh ini menjadi landasan untuk ketepatan model Ledakan Dahsyat memaparkan masa muda alam semesta. Maka kosmologi masa kini pun bertumpu pada model Ledakan Dahsyat sebagai paradigma utamanya.

Ketertalaan yang Amat Menakjubkan

Pemaparan singkat di atas memperlihatkan upaya para kosmolog untuk menjadikan gejala yang tampak dalam alam semesta sebagai acuan pembentukan model-model yang akan memberikan gambaran mengenai alam semesta secara keseluruhan.

Di belakang pemaparan itu sendiri sebetulnya tersimpan sebuah pertanyaan mendasar yang bermaksud mendapatkan jawaban: ‘mengapa alam semesta seperti ini? Sebuah pertanyaan tradisional kosmologi yang terus terbawa dalam nafas modernnya.

Pertanyaan yang semula muncul karena rasa ingin tahu kian menjadi dorongan pencarian makna ketika para ilmuwan menyadari betapa sebetulnya alam semesta ini mempunyai kebolehjadian yang amat kecil untuk menjadi ada; apalagi jika kemudian kita menyadari betapa sangat rumit dan halusnya syarat yang diperlukan untuk mendapatkan alam semesta yang berpengamat sadar (seperti manusia). Kenyataannya, alam semesta seperti ini dan kita ada di dalamnya.

Berbagai gaya berjalin dalam ketertalaan yang amat halus, sehingga sedikit perubahan pada salah satu saja faktor yang berperan dalam pengevolusian alam semesta, betapa pun tak terbayangkan kecilnya, akan meruntuhkan keseluruhannya; membayangkan bahwa akan ada kehidupan dalam alam semesta yang berbeda itupun menjadi hampir-hampir tidak mungkin. Melalui penelaahan terhadap evolusi kehidupan dan seluruh struktur pendukungnya, banyak kosmolog menyimpulkan bahwa kehidupan hanya menjadi mungkin karena di dalam alam semesta berlangsung penggabungan yang sangat seksama antara berbagai interaksi fisika (seperti gaya gravitasi, elektromagneik dan gaya nuklir kuat serta gaya nuklir lemah) dan tetapan-tetapan dasar alam (misalnya laju cahaya, muatan elektron, massa proton).

Mengapa alam semesta seperti ini? Mengapa tetapan-tetapan dasar alam sedemikian harganya sehingga interaksi fisika yang terkait dengannya berhasil membangun suatu struktur yang menghadirkan, mendukung, mengevolusikan kehidupan, dan mempertahankan kelangsungannya sejauh ini? Mengapa alam semesta memuai dengan laju yang amat tepat, begitu rupa, sehingga jika sedikit saja lebih cepat akan menyebabkan seluruh materi di dalamnya cerai berai dan galaksi, bintang, planet, serta tentu saja kita, tidak pernah ada di dalamnya; tetapi mengapa juga tidak sedikit saja lebih lambat sehingga seluruh alam semesta akan runtuh sebelum galaksi-galaksi, bintang-bintang, planet-planet, apalagi kita, dapat terbentuk?

Bukan hanya ketertalaan yang ‘sangat tidak boleh jadi’ semata yang menarik perhatian. Terlebih dahulu para ahli fisika dan kosmolog menemukan ‘kebetulan’ pada berbagai maujud (entitas) fisika yang membangkitkan keingintahuan. Suatu kebetulankah bahwa umur alam semesta (suatu maujud yang mencirikan struktur skala besar alam semesta) dan nisbah (rasio) antara gaya gravitasi dan gaya elektrik dalam atom (yang mencirikan struktur mikroskopik alam semesta) dapat dinyatakan oleh bilangan yang sama, 1040; padahal keduanya berasal dari wilayah yang menerapkan hukum-hukum fisika berbeda yang sejauh ini diketahui tidak saling berhubungan; suatu kebetulankah bahwa jumlah zarah masif dalam alam semesta adalah pangkat dua dari bilangan itu?

Suatu kebetulankah bahwa semua bintang, terlepas dari keragaman jenisnya, mengandung kira-kira 1060 nukleon? Suatu kebetulankah bahwa ruji planet senantiasa merupakan kelipatan akar ukuran cakrawala alam semesta? Suatu kebetulankah bahwa massa rata-rata untuk ukuran tubuh manusia yang-mungkin merupakan akar nisbah massa planet terhadap massa proton?

Persoalan menyangkut asal usul harga tetapan dasar dan interaksi fisika yang telah memungkinkan hadirnya alam semesta tertala yang penuh dengan ‘kebetulan’ ini, sampai sekarang belum terjawab. Sejauh ini harga-harga itu harus diterima sebagai terberi, demikian adanya, dan tidak dapat diketahui dari teori manapun yang selama ini berhasil dikembangkan.

Mengapa alam semesta seperti ini? Mengapa kita mengamatinya demikian?

Inilah pertanyaan luar biasa menarik yang terus menantang kosmologi untuk berupaya keras mencari jawabannya.

Terlepas dari pertanyaan yang amat mendasar itu, mungkin tetap saja kita bertanya, apa gunanya belajar kosmologi? Apa gunanya belajar astronomi?

Dalam hal menjawab pertanyaan praktis ini, mungkin kita dapat menoleh sebentar pada Matahari dan meninjau mekanisme pembangkitan energi di dalamnya. Matahari sudah bersinar untuk waktu yang amat lama, 4,5 milyar tahun, dan masih akan terus bersinar selama kira-kira 5,5 milyar tahun lagi. Energi dahsyat yang memungkinkan umur yang demikian panjang itu adalah energi nuklir. Pemahaman terhadap pembangkitan energi di bintang-bintang telah menyumbang banyak terhadap pengetahuan mengenai mekanisme pembangkitan energi nuklir, yang selain dapat saja berguna, tetapi sekaligus demikian dahsyat.

Astronomi memang sangat jauh. Astrofisika demikian rumit dan seperti tidak berbicara tentang Bumi. Kosmologi demikian luas dan seperti tidak menapak di Bumi yang gegap gempita. Namun dari astrofisika-lah lahir pemahaman mengenai Helium yang menyebabkan bencana balon gas Hindenburg (1930-an) tidak terulang lagi. Dari pengamatan terhadap gerak planet-lah berbagai satelit yang kini membantu kita mengetahui lebih dulu kondisi cuaca, sehingga dapat melakukan antisipasi atas gejala yang mungkin muncul, dapat sampai ke orbitnya mengedari Bumi.

Kemudian, jika kita menoleh pada Venus, kita pun melihat sebuah planet yang pada dini hari terlihat amat mempesona sebagai Bintang Timur, atau cemerlang menakjubkan pada senja hari sebagai Bintang Kejora di kaki langit barat. Namun pemahaman lebih rinci mengenai kondisi planet yang seringkali disebut sebagai kembaran Bumi ini segera saja memperlihatkan bahwa pemanasan dahsyat akibat efek rumah kaca telah membuat planet ini ibarat neraka bersuhu 4500 C; sebuah efek rumah kaca yang dapat saja, bahkan sudah mulai, berlangsung di Bumi akibat ulah manusia yang bergiat dengan industri yang tidak ramah lingkungan.

Jika menoleh pada Mars, kita berjumpa dengan planet kemerahan beralur seperti saluran-saluran air buatan tangan mahluk cerdas. Untuk waktu yang lama planet ini menjanjikan kemungkinan manusia Bumi akan mempunyai teman. Namun harapan itu tetap tinggal harapan yang belum juga terbukti sampai sekarang. Ada banyak temuan dari planet amat dingin ini. Namun apakah ada kemungkinan kehidupan di sana?

Dengan contoh sederhana inilah kita sebetulnya dapat menarik benang merah yang amat nyata dari upaya manusia mempelajari astronomi dan, lebih luas lagi kosmologi: bahwa hanya ada satu Bumi yang terbentuk pada waktu yang tepat, dalam ruang yang tepat, yang demikian nyaman untuk kehidupan sehingga ia hadir, tumbuh, berkembang, dan menjadi sadar untuk dapat bertanya: mengapa semua demikian?

(Disampaikan dalam ceramah ilmiah di LIPI untuk siswa-siswi Sekolah Lanjutan Tingkat Atas).

Satu komentar

  1. Ping-balik: 2010 in review | arusbawah 2.0

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s